Kebenaran Eksistensial

oleh: Alfathri Adlin

Tersebutlah seorang pangeran kecil dengan mahkota ajaibnya. Namun seorang penyihir jahat menculiknya, mengurungnya di menara, dan membisukannya. Dalam kurungan tersebut ada jendela berterali, dan pangeran itu membenturkan kepala bermahkotanya ke terali, berharap seseorang akan mendengar suara itu dan menemukannya. Mahkota itu membuat suara terindah yang pernah di dengar orang. Suaranya bergema sampai jauh. Begitu indahnya sehingga orang merasa ingin menangkap udara. Mereka tak menemukan sang pangeran, tak pernah menemukan kamar kurungannya, tapi suara itu memenuhi hati setiap orang dengan keindahan.

Sepenggal narasi yang diungkapkan oleh karakter Jean Michel Basquiat—perupa pop art—dalam film “Basquiat” bisa mengalegorikan hubungan seniman dan karyanya sebagai refleksi atas kehidupan. Meskipun karyanya bisa menggugah penikmatnya, namun sang seniman sering “kesakitan” dalam refleksinya, sehingga tak jarang karyanya menampilkan kesuraman dan kegamangan eksistensial. Sebagaimana dipaparkan berikut oleh Bambang Sugiharto, dulu seni sering diidentikkan dengan dekorasi, ornamen, dan kepuasan. Meski kini dianggap kuno, ketiga hal tersebut masih bisa ditemukan, misalnya di kalangan desainer (sense of beauty). Kini seni seringkali tak lagi menampilkan keindahan. Pada titik ini, menurut Clive Bell, seni lebih tepat disebut sebagai bentuk bermakna (significant form), dan seniman adalah “tukang utak-atik bentuk” guna memberi makna pada pengalaman sebagai sebentuk reflektivitas.

Karena atmosfir dunia seni itu reflektif, para pelakunya cenderung filosofis kendati tidak belajar filsafat. Tengok bagaimana sastra, musik, lukisan atau berbagai karya seni bermutu seringkali filosofis dan reflektif sebab mengandung sense of mysteries. Seni juga bisa membuat manusia melihat sesuatu yang sering diabaikan dalam keseharian. Namun, semakin mendalam refleksinya, semakin sukar untuk dimengerti.

Paul Ricoeur, yang mengolah konsep Sigmund Freud tentang ketaksadaran dan kesadaran, mengajukan bahwa ketaksadaran itu berupa berbagai imaji (seperti video), yang dibekukan ke dalam kesadaran oleh kata/konsep/verbal (seperti fotografi). Namun, bagi Benedetto Croce, dalam tahap awal apresiasi seni, kedua hal ini tak terdiferensiasi karena dicerap oleh totalitas diri secara fisikal (individual physiognomy). Menurutnya, mengapresiasi seni merupakan tindakan intuitif.

Dengan berbagai bentuknya, kini seni lebih merupakan persoalan kebenaran eksistensial atau kenyataan (das Sein). Kebenaran di sini bukanlah kebenaran moral atau persoalan idealitas (das Sollen), dan bukan pula kebenaran ilmiah seperti rumus atau pola. “Seni adalah kebohongan yang memungkinkan kita menyadari kebenaran”, begitu cetus Pablo Picasso. Kebenaran eksistensial tersebut disampaikan melalui olah bentuk, sehingga nilai karya seni terletak pada kesadaran baru yang ditimbulkannya. Karya seni bermutu hanya menyiratkan berbagai kemungkinan, bukan menyuratkan atau menerang-jelaskan, jarang sekali mendikte.

Ini terkait juga dengan estetika, namun bukan dalam pengertian yang dicetuskan oleh Baumgarten sebagai “filsafat keindahan”. Estetika diserap dari bahasa Yunani, aisthetikos, yang artinya persepsi atau kesadaran. (Kata aisthanomai artinya saya menyadari sesuatu.) Justru pengertian dasar dalam bahasa Yunani inilah yang kini lebih tepat untuk memaknai estetika terkait dengan kebenaran eksistensial dan kesadaran baru dalam seni. Berbeda dengan seni pramodern—yang merupakan bagian dari ritual dan agama—seni modern menjadi otonom dari apa pun (art for art sake). Bahkan Immanuel Kant menyatakan bahwa apresiasi seni ditandai oleh sikap tanpa kepentingan (disinterestedness). Setelah agama “terdepak” dari kancah kebudayaan, kini wilayah batin manusia modern lebih sering diisi oleh seni. Namun, salah satu konsekuensinya, seni kontemporer seringkali menampilkan kebenaran eksistensial berupa kesakitan, kecemasan, absurditas, dsb. (Carl Gustav Jung banyak membahas hal ini.)

Seni murni maupun terapan merupakan pengenaan dimensi batin pada benda, peristiwa, sikap, gerak, bunyi, dsb, secara karikatural atau melebih-lebihkan agar perkara esensial yang diusungnya tertampilkan. Karena dari perspektif seni, kelebihan manusia bukanlah pada nalar atau akal budi, tetapi pada reflektivitas atau kontemplasi yang merupakan perpaduan nalar, rasa dan imajinasi. Dalam seni ada ekspresivitas atau pergumulan batin ketika mengolah bentuk. Ciri khas seni zaman ini adalah hibrid, kolase, intertektualitas, seperti new media art, namun karakternya tetap sama, yaitu, berkomunikasi melalui olah bentuk. Susan Sontag menegaskan bahwa yang terpenting dalam seni adalah the erotics of art, bentuk yang tak terterjemahkan namun mempunyai efek berupa penikmatan berbagai sensasi inderawi. (Bahkan kini seksualitas dianggap sebagai jalan masuk ke wilayah tersembunyi dan paling rumit dalam kehidupan manusia.)

Dalam kesehariannya, manusia lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang pikiran, bahkan bisa dikatakan bahwa manusia itu melihat bukan dengan mata, tetapi imajinasinya. Karenanya, seni berperan untuk mengintensifikasi dan mengekstensifikasi pengalaman. Melalui karya seni, berbagai pengalaman yang mengandung bobot rasawi dan imajinasi dirumuskan dan diberi bentuk, sehingga manusia menyadari keberadaan sesuatu yang berharga. Juga untuk mempertajam sensibilitas, sehingga manusia menjadi peka terhadap unsur-unsur penting namun tersembunyi dalam realitas dan pengalaman. Selain itu, seni juga berguna untuk mendidik perasaan terdalam dan misterius dari psikis manusia (the heart of education is the education of the heart). Utamanya, selain reflektivitas, seni juga memuat sublimitas, yaitu hal-hal yang tak terumuskan namun ada dan tak terelakkan.

Karya seni juga membantu untuk memahami yang universal melalui yang partikular, seperti cinta, kematian, persahabatan, dsb, meski filsafat pun membahasnya secara konseptual dan abstrak. Seni memberi wajah dan daging yang konkret untuk hal tersebut sehingga efek rasa dan imajinasinya lebih kuat ketimbang filsafat, meski tidak sejelas sains dan filsafat karena seni hanya melukiskan, bukan menjelaskan (depiction bukan description). Malahan seni pun berfungsi untuk mengimbangi perspektif sains.

Sains memahami dengan jarak kritis (distansi) karena menginginkan objektivitas dan memburu kejelasan, sementara seni malah menyelam masuk ke dalam objeknya karena memahami melalui empati. Apabila sains berpikir melalui abstraksi, maka seni justru berpikir melalui yang konkret. Sains selalu mencari kepastian dengan mengukur (presisi) sehingga tidak afdol apabila tidak melahirkan kepastian, sementara seni malah menggali ambiguitas yang mendalam. Aura kepentingan pragmatis terasa sangat kuat dalam sains, sementara seni arahnya adalah mengungkapkan diri (ekspresif) untuk kontemplasi (terkait dengan keharuan yang tak bisa dijelaskan). Sains, bagaimana pun, menggunakan logika konseptual (sebab-akibat), sementara seni menggunakan logika rasa dan imajinasi (efek-efek imajinatif). Pola ungkap sains adalah literal-diskursif, sementara seni adalah metaforik dan figural. Sains berkecenderungan memandang realitas atau objek itu sebagai sesuatu yang mati, sementara seni malah menghidupkannya, memberi “nyawa”. Sains cenderung mengubah realitas agar dijadikan lebih ideal atau memudahkan, sementara seni cenderung membiarkan realitas dalam kebenaran eksistensialnya untuk mengubah kesadaran melalui stilasi. Dengan sekian hal tersebut, seni setidaknya bisa mengimbangi sains karena seni menghindarkan sterilisasi.

Melihat paparan di atas, kita bisa melihat betapa kini keseharian kita begitu dipenuhi berbagai bentuk seni yang “kurang bergizi” (misalnya, ledakan sinetron dan fiksi populer). Ini tak ubahnya semata menjejali manusia dengan cemilan permen, tanpa asupan gizi lainnya. Bahkan, sekalipun ada tawaran bentuk seni religius (misalnya, sastra Islam), muatannya lebih merupakan kebenaran dogmatis yang ditampilkan secara naif, tak berpijak pada realitas eksistensial (bahkan para nabi pun tidak sebegitu sempurnanya dan jatuh bangun dalam kehidupan). Sekalipun sekuler dan suram, tak ada salahnya kalangan seniman religius mau belajar untuk lebih reflektif dan kontemplatif seperti yang tampak pada seni kontemporer bermutu, agar tidak dogmatis dan dangkal.[]


Add a Comment

Comment closed