Menjadi Dungu Karena Buku

oleh: Alfathri Adlin

“Suatu malam, langkah kaki Mill terdengar di pintu,” Carlyle mengenang. “Dia masuk dengan wajah pucat dan tidak mampu berbicara; memberi tanda kepada istri saya untuk turun ke bawah dan berbicara dengan Mrs. Taylor, perempuan yang dikemudian hari dinikahi oleh Mill; dan dia melangkah maju (dibimbing oleh tangan saya, dan pandangan penuh keheranan) dengan ekspresi penuh keputusasaan.

“Setelah beberapa saat berusaha berbicara dengan susah payah, akhirnya dia dapat mengatakan bahwa Volume Pertama karya saya (yang ditinggalkan olehnya dengan ceroboh setelah dibaca), kecuali 4 atau 5 lembar, telah musnah.”

“Saya menghabiskan waktu 5 bulan yang menuntut ketabahan yang besar, dan proses kerja yang menyakitkan dan sungguh menguras pikiran dan energi.”

“Malam itu, Mill tetap bersama kami sampai larut. Dan saya berusaha seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja disampaikannya, dan berbicara tentang hal-hal remeh yang lain. Tapi dia tetap meninggalkan kami dalam keadaan hancur.”

Kecelakaan yang menimpa Sir Thomas Henry Hall Caine Carlyle, sejarawan Skotlandia, akibat kecerobohan John Stuart Mill, filsuf Inggris, adalah peristiwa ‘mengerikan’ bagi kebanyakan penulis. Kerja keras sekian bulan, membaca sekian rujukan, kemudian diolah dan dituliskan, mendadak hilang begitu saja sekejap mata. Namun, era ‘penulis jujur’ tersebut tampaknya akan segera berlalu. Kini, terutama di Indonesia, muncul generasi ‘penulis pesanan penerbit’ yang, dengan berbagai tipu muslihatnya, bisa menyelesaikan draft buku—tema apa pun—dalam waktu 2-3 hari.

Pada bulan September 2007, KPJ menerbitkan buku berjudul “Declare!: Kamar Kerja Penerbit Jogja (1998-2007)” karya Adhe, mantan direktur penerbit Jendela. Buku itu diberi kata pengantar “Reorientasi Industri Buku Jogja” oleh St. Sunardi, pemikir terkemuka dari Yogya. Buku ini membuka banyak borok penerbit Yogya yang membuat pembacanya ‘geleng-geleng kepala, salut, cengengesan, miris dsb’.

Salah satu fenomena memuakkan yang dibongkar dalam buku ini adalah trend buku-buku ATM (amati, teliti, modifikasi) dan SPANYOL (separo nyolong). Apa maksudnya? Begini. Kini, untuk menulis buku, ‘para penulis generasi baru’ tidak dituntut memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik ihwal topik yang akan dituliskannya. Mereka cukup bermodal komputer serta koneksi internet unlimited. Pertama-tama, mereka googling tentang suatu tema via internet, kemudian mereka download semuanya. Berikutnya, kesemua data hasil download tesebut mereka amati, teliti dan modifikasi sekenanya sesuai ‘imajinasi’, dan, sim salabim, jadilah buku. Atau cara lainnya, ‘para penulis generasi baru’ ini mengumpulkan sepuluh buku dengan tema serupa, misalnya buku TOEFL. Mereka ‘nyolong’ dari masing-masing buku tersebut 3 bab, dan, sim salabim, jadilah ‘buku TOEFL baru’ berisi 30 bab. Untuk nama penulis, mereka cukup ‘kreatif’ untuk mengarang nama pena lengkap beserta biografi fiktif.

Percaya atau tidak, teknik membuat buku semacam ini benar-benar menguntungkan. Dalam sebulan, ‘penulis’ bisa menghasilkan 5 sampai 8 ‘naskah buku dungu’ yang dijual putus kepada penerbit seharga 1,5 juta hingga 2 juta per ‘naskah’. Sementara penerbit bisa mengeruk laba besar dari bisnis ‘buku dungu’ ini, sehingga bisa membeli mesin cetak baru, membangun kantor baru, membeli mobil mewah baru bagi sang pemilik serta mengongkosinya pelesiran ke Eropa, dan sebagainya. Meskipun isi ‘buku dungu’ ini tidak bisa dipertanggungjawabkan dan banyak memuat informasi menyesatkan, tapi tetap saja laris manis di pasaran. Kenapa?

Pendidikan di Indonesia memang tidak membuat yang melek huruf jadi gemar membaca. Seperti ditegaskan Bambang Sugiharto, “sejarah pendidikan kita adalah sejarah pelestarian mentalitas kuli secara sistematis.” Tradisi lisan memang berakar kuat di Indonesia, tapi apakah itu berarti bukanlah masalah apabila kalangan yang beruntung bisa mengenyam pendidikan tinggi juga malas membaca dan hanya beorientasi ‘asal lulus, dapat ijazah dan bekerja’? Apakah tabiat malas membaca di kalangan terdidik bisa dilindungi dengan apologi ‘kelisanan adalah tradisi asli Indonesia’? Jangan lupa, para founding father Indonesia juga lahir dari masyarakat bertradisi lisan, namun mereka adalah pembelajar yang ‘rakus’ membaca, dan bahkan terampil menulis.

Salah satu kelemahan masyarakat bertradisi lisan adalah keterpesonaannya pada efek atau aura persoalan. Umumnya mereka tak terkondisikan untuk biasa berjarak dan berpikir sistematis, sehingga cenderung latah dalam banyak hal. Watak ini semakin ‘diasah’ oleh media massa yang gemar mengekspos berbagai perkara yang sama sekali tidak penting menjadi seolah-olah penting. Masyarakat menjadi semakin intens melepaskan rasa penasarannya mengikuti isu demi isu yang tengah ‘heboh’.

Rasa penasaran semacam itu pulalah yang dimanfaatkan oleh ‘penulis’ dan penerbit ‘buku dungu’. Ketika suatu isu merebak ke permukaan dan menyedot perhatian masyarakat, maka hanya selang waktu satu hingga dua minggu terbitlah buku yang membahas isu tersebut. Misalnya, bila saat ini masyarakat tengah heboh membicarakan tentang ‘Kiamat 2012’, dalam satu atau dua minggu saja telah terbit ‘buku dungu’-nya. Hasilnya? Laris manis dan cetak ulang, mungkin karena sebagian besar pembeli buku saat ini lebih didorong untuk melampiaskan rasa penasaran ketimbang belajar untuk mencari pengetahuan. (Meski bukan ATM dan SPANYOL, buku ‘Jakarta Undercover’ pun menjadi best seller karena ‘rasa penasaran’ para pembelinya.)

Tak berhenti hanya di situ. Hidup bukan tanpa ironi. Adhe yang sebenarnya merupakan salah seorang pelopor penerbitan buku ‘serius’ di Yogya, yang juga telah membedah bisnis ‘buku dungu’ dalam buku “Declare!” karyanya, ternyata sejak 2007 telah beralih profesi menjadi salah satu ‘penulis ATM dan SPANYOL’ dikarenakan “rupa-rupa kebutuhan hidup yang jahanam banyaknya”, ujarnya.

Hal itu secara gamblang dia paparkan dalam tulisan berjudul “Saya Bekerja sebagai Penyuplai Naskah Buku” dalam http://kujangpress.multiply.com/journal. Secara eksplisit pula Adhe menyebut siapa yang menjadi pemesan ‘buku dungu’-nya (lengkap dengan judul-judul yang pernah dia buat), yaitu, Indra Ismawan (Media Pressindo), Abdul Masrur (Arruzz Media), Philipus Haryadi (Solusi Distribusi), Agus Haryanto (Diandra Primamitra), Ribut Wahyudi (Diglossia), Luthfi dan Umar Tajudin (Pinus), M. Nursam (Ombak), Wawan Arif Rahmat (Qudsyi/Relasi Distribusi), Pak Mangun (Sakti), Mbak Mumun, Sholeh UG (Navila), dan Taufik Hidayat (Arti).

Adhe menjelaskan bahwa dengan menjadi penulis ‘buku dungu’ dia “...bisa melunasi penggadaian BPKB mobil, mengganti sepeda motor yang hilang, membayar rumah kontrakan, dan menikmati konsumsi dalam keasyikan yang sesuai parameter saya.” Ungkapan tentang ‘kesenangan materi’ yang didapat menjadi penulis ‘buku dungu‘ serta ejekan terhadap para ‘penulis jujur’ beserta penerbitnya sering juga dia lontarkan dalam berbagai status facebook-nya.

Namun, hal ini bukan tanpa perlawanan. Salah satu perlawanan datang dari Toko Buku Diskon Toga Mas yang sejauh ini merupakan satu-satunya toko buku yang berani memutuskan hubungan dengan distributor yang memberi ‘support’ atas ‘buku-buku dungu’ ini. Sayangnya, sejauh ini belum ada toko buku lain yang mengambil sikap tegas seperti Toga Mas. Dengan demikian, berarti masih banyak calon konsumen yang potensial menjadi korban, baik karena dimanfaatkan rasa penasarannya atas isu yang sedang ‘heboh’, juga karena keawamannya dalam mencari buku teks yang bagus dan benar, seperti TOEFL dan buku-buku teks pendamping lainnya.

Fenomena laris manisnya ‘buku dungu’ ini, pada akhirnya, semakin memperlihatkan bagaimana para penulis lokal berbakat yang jujur nyaris tak berarti, seperti ‘orang asing di negerinya sendiri’. Tak jarang, ‘buku serius’ bermutu karya penulis lokal diabaikan oleh para mahasiswa yang—melihat disiplin ilmu pilihannya—seharusnya berkepentingan untuk membacanya. (Dalam penelitian yang diadakan suratkabar Kedaulatan Rakyat, rata-rata mahasiswa di Yogya perbulan menghabiskan Rp. 50000 untuk membeli pulsa dan ‘hanya’ Rp. 20000 untuk membeli buku, entah bagaimana kondisinya di kota lain.)

Selain itu, apabila direnungkan lebih jauh, dalam hidup yang serba cepat dan waktu senggang yang semakin sempit, dalam serbuan arus informasi dari yang banal hingga hikmah ilahiah—menyerupai implosi—manusia seharusnya bersiasat untuk belajar secara efektif, efisien dan fokus. Efektif dan efisien maksudnya belajar dari rujukan terpilih yang valid dan autoritatif sehingga pembelajaran berlangsung cepat guna mencapai pemahaman tertentu, sehingga manusia bisa beralih mempelajari hal yang lainnya. Fokus agar menghasilkan ketajaman tertentu. (Lampu 15 watt dengan cahaya yang menyebar ke segala arah seringkali hanya menjadi penerangan sekadarnya. Namun, apabila cahayanya difokuskan menjadi laser, maka besi pun bisa ditembusnya.)

Karenanya, selama mayoritas pembeli buku di Indonesia lebih banyak dimotivasi oleh hasrat untuk melampiaskan rasa penasaran atas ‘isu heboh bulan ini’ (yang seringkali banal), maka selama itulah mereka akan menjadi mangsa bisnis ‘buku dungu’ ini. Pembaca hanya disuguhi ‘pengetahuan sampah’, sementara uang yang dibelanjakan hanya mempertebal kantong para ‘penulis’ dan penerbit ‘buku dungu’. Akhirnya, dunia perbukuan pun tidak lagi berperan mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi justru malah membuat masyarakat menjadi dungu karena buku.[]


Add a Comment

Comment closed