Antara Suara Hati dan Suara Tuhan

oleh: Alfathri Adlin

Agen Fox Mulder melihat Romo Gregory tengah berdoa di dalam ruangan interogasi, lalu dia berkata: “Apa permohonanmu, Romo? Rahmat ataukah pengampunan? Tahukah Romo, orang-orang bilang bahwa ketika kau berbicara kepada Tuhan maka itu adalah doa, namun ketika Tuhan berbicara kepadamu maka itu adalah skizofrenia. Apa yang dikatakan Tuhan kepadamu, Romo?” Sekelumit dialog dari film seri X-Files tersebut dengan tandas memperlihatkan permasalahan yang kini lazim mengemuka dalam masyarakat modern, yaitu, mungkinkah Tuhan berbicara dengan manusia di masa ini?

Dalam Apologia, Sokrates menjelaskan tentang orakel atau pertanda (semeion), yaitu daimón yang menjelma sebagai sebentuk suara yang selalu memberitakan larangan dan tak pernah bersifat perintah untuk berbuat sesuatu yang hendak dilakukannya. Suara inilah yang melarangnya menjadi negarawan, misalnya, dan dengan tanpa takut menghadapi kematian, Sokrates melaksanakan tugasnya sebagai filsuf, agar bisa berbuat baik bagi orang lain maupun untuk dirinya sendiri. Sokrates bahkan menegaskan bahwa itu adalah perintah Tuhan, dia pun tidak pernah meminta upah sebagaimana yang biasa dilakukan kaum Sofis dalam pengajarannya dan hidup dalam kemiskinan seumur hidupnya. Lalu, apakah daimónion itu? Dalam Symposium, Sokrates menjelaskan bahwa daimón bukanlah makhluk insaniah ataupun malakut, namun pertengahan di antara keduanya; perantara antara ilahiah dan insaniah. Daimón juga menerjemahkan antara Tuhan dan manusia, menyampaikan dan menyeberangkan kepada Tuhan berbagai permohonan dan pengorbanan manusia, serta kepada manusia berbagai perintah dan jawaban dari Tuhan. Dalam Apologia dikemukakan bahwa apabila Sokrates berbuat sesuatu kekhilafan atau kesesatan maka daimón itu selalu menimbulkan tentangan dalam batinnya, sekalipun tentang perkara remeh.

Setidaknya ajaran Sokrates bisa dipadatkan menjadi satu frasa dari Apollon yaitu “gnothi se auton meden agan” (kenali dirimu sendiri dan jangan berlebih-lebihan). Bagi Sokrates, manusia itu bisa diumpamakan seperti benda buatan yang mempunyai tujuan atau fungsi tertentu, yang mana manusia pun telah diciptakan untuk suatu tujuan dan fungsi tertentu dan adalah tugas manusia pula untuk menemukannya dan melaksanakannya dengan tepat. Manusia, menurut Sokrates, mempunyai “diri yang nyata” yang harus dikenali oleh dirinya sendiri; bahwa kebahagiaan yang nyata terdapat dalam keberhasilan meraih kesempurnaan akan diri yang nyata tersebut; bahwa moralitas itu bukan sekadar mematuhi hukum, melainkan lebih merupakan sesuatu yang spiritual. Moralitas merupakan pengetahuan yang nyata mengenai esensi, seperti “arete” atau “dike”, yang harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri. Begitu pengetahuan ini diperoleh, maka mata hati dapat melihat semuanya sehingga manusia akan selalu mengetahui apa yang benar, dan tidak akan pernah keliru dalam menetapkan tindakan-tindakannya. Dengan demikian, Sokrates telah membuat moralitas sebagai jalan bagi pengenalan diri sendiri, dan seperti dia utarakan sendiri, daimón menjadi salah oknum yang menuntunnya untuk mengenali diri sendiri.

Dalam etika Aristoteles, istilah yang digunakan adalah eudaimónia (eu artinya baik) yang bisa diartikan sebagai kesejahteraan spiritual yang vital atau kebahagiaan. Ini adalah kebahagiaan yang dicapai ketika potensi penuh seorang individu untuk sebuah kehidupan yang rasional sepenuhnya benar-benar terealisasi dan individu tersebut telah mengekspresikan semua kapasitasnya yang beraneka ragam, sesuatu yang pada nyatanya ingin dicapai sesuai dengan watak inherennya. Misalnya, bahwa yang baik bagi individual adalah apa-apa yang sesuai menurut fitrah esensialnya dan pengembangan fakultas rasionalnya secara penuh. Kebaikan tidak selalu identik dengan keinginan seseorang, karena keinginan tidak didasarkan pada watak rasional esensial seseorang. Hanya ketika seseorang berkehendak untuk mengekspresikan watak esensialnya dan berupaya melakukan hal ini, maka keduanya menjadi koheren satu sama lain. Upaya keras untuk realisasi-diri ini merupakan esensi menjadi manusia.

Untuk abad-abad berikutnya, eudemonisme menjadi nama yang dinisbatkan pada etika semacam ini, yang dimaknai sebagai paham yang mendewakan kebahagiaan sebagai nilai hidup yang tertinggi. Namun aspek daimón sebagai ruh yang menuntun, jiwa sebagai diri sejati, serta pengenalan diri tak seperti terpinggirkan. Bukan hanya itu, sebagaimana dikemukakan oleh A. Sudiarja, suara hati atau nurani kemudian dianggap tak lebih dari dorongan rasa alamiah (sense) saja. Lalu Immanuel Kant kemudian secara filosofis memasukkan kembali suara hati atau nurani sebagai unsur moral yang penting, namun dia menyerang secara frontal etika eudemonisme, dan sebagaimana dinyatakan oleh Franz Magnis Suseno, bahwasanya hanya ada dua pola dasar etika universalistik, yaitu eudemonisme dan etika kewajiban Kant. Selain itu, prinsip-prinsip moralitas yang dirumuskan oleh Kant tidak tergantung pada pengalaman sama sekali.

Pembahasan Kant tentang suara hati atau nurani muncul dalam konteks pembahasan tentang kehendak bebas dan determinisme, dan bagaimana Kant mencoba mendamaikan kedua hal ini. Menurut Kant, ada dua situasi berbeda, yaitu melakukan sesuatu tanpa keinginan melakukannya dan melakukan sesuatu tanpa rasa kewajiban moral untuk melakukannya. Kebaikan moral tidak dapat dinisbatkan kepada tindakan yang dilakukan tanpa kecenderungan, karena kebaikan moral hanya dapat dinilai pada tindakan yang dilakukan dengan rasa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah kesadaran akan hukum moral dan ketundukan sepenuhnya pada hukum moral. Hukum moral itu bertentangan dengan kecenderungan dan dinyatakan dalam bentuk perintah yang pasti. Hukum moral tidaklah bersyarat, sementara kehendak itu berubah-ubah, dan metode untuk mencapai kepuasan kehendak juga berbeda-beda. Secara akar kata, conscience itu berasal dari conscire yang artinya adalah ‘tahu atau sadar’ sehingga conscience atau suara hati itu merujuk perasaan atau kesadaran tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, serta tentang apa yang secara moral dianggap benar, baik, dibolehkan mau pun yang secara moral dianggap salah, jelek, dilarang. Seperti dinyatakan Franz Magnis, dasar rasionalitas kesadaran moral adalah kesadaran bahwa melakukan kewajiban itu sesuatu yang baik. Karena demikian, maka melakukan kewajiban adalah masuk akal.

Pendasaran tentang suara hati atau nurani ini mendapat paparan lebih jauh misalnya dari Sigmund Freud yang merumuskan tiga instansi dalam diri manusia yang diistilahkannya sebagai id, ego, dan superego. Id adalah bagian dari kepribadian yang gelap, pusat dari naluri dan impuls primitif, bersifat hewani dan seksual, juga tak sadar. Kehendaknya hanyalah ingin memuaskan keinginan dan kenikmatan tanpa mempedulikan akibatnya karena id tidak mengenal nilai, tak mengenal buruk baik, tak punya moral. Lalu ego yang perlahan-lahan tumbuh dan dikendalikan oleh prinsip realitas, sadar akan dunia sekelilingnya, dan menyadari bahwa kehendak id harus ditahan. Ego adalah mediator antara kehendak id yang liar dan kendali dunia luar, sensor terhadap berbagai keinginan id, dengan cara menyesuaikan pada keadaan yang realistis dan untuk menghindari hukuman dan keselamatan diri sendiri. Dan terakhir adalah superego yang secara umum dapat dirumuskan sebagai suara hati atau nurani, evolusi mental tertinggi yang dicapai oleh manusia, dan terdiri dari berbagai endapan segala larangan, tatakrama yang diajarkan oleh orangtuanya dan para pengganti orang tua. Seperti id, superego bersifat tak sadar, dan keduanya selalu berada dalam konflik terus menerus, sedangkan ego bertindak sebagai wasit.

Lalu bagaimana dengan suara Tuhan? Kini, umumnya yang disebut sebagai ‘suara Tuhan’ adalah sebentuk ungkapan metaforik dari kata-kata yang tertuang dalam kitab suci. Namun, kalau melirik pada kajian kitab suci yang sudah dilakukan oleh Wilfred Cantwell Smith, setidaknya ada dua bentuk ‘suara Tuhan’ dalam kitab suci, yaitu ‘buku-buku manusia biasa’ dan ‘kitab-kitab ilahi yang secara verbatim diturunkan dari dunia lain’. Dan, karena ‘suara Tuhan’ merujuk pada teks dalam semua kitab suci, maka permasalahannya adalah—seperti sering disinyalir dalam kajian hermeneutika—teks itu otonom dan bisa ditafsirkan lepas dari maksud sang pengarang. Pelaku bom yang menewaskan ratusan orang bisa tetap merasa benar dan bermoral di mata Tuhan berdasarkan penafsiran kitab sucinya, tanpa harus merasa bersalah dengan adanya korban tak bersalah yang ikut terbunuh.

Terkait hal ini, Bambang Sugiharto mengidentifikasi beberapa ilusi atau inkonsistensi dalam agama, di antaranya adalah ilusi doktrinal, bahwa keselamatan adalah sekadar perkara pengakuan atas kalimat, dan kebenaran adalah soal rumusan konseptual-verbal. Tak jarang manusia menjadi sangat nyinyir memerkarakan rumusan-rumusan kalimat dogma dan kredo, bahkan gencar berpolemik tentang konsep dan istilah, bila perlu hingga berlumuran darah. Lalu, ilusi pemegang kebenaran. Keyakinan berlebihan bahwa kebenaran sudah ada di tangan mudah sekali membuat siapa pun merasa mampu membaca pikiran Tuhan dan seakan merupakan representasi suara Tuhan, lantas dengan mudah juga mengadili atau menghukum yang lain, dan inilah persis akar dari segala kesewenangan dan kekerasan religius. Keyakinan berlebihan bahwa kebenaran sudah ada di tangan juga mudah sekali membuat manusia mengira bahwa Tuhan tak mungkin bicara atau mengkomunikasikan diri lagi pada zaman-zaman lain, seperti zaman ini, dengan beragam idiom dan cara yang berbeda-beda, sesuai konteks komunikasi yang berbeda pula. Dengan begitu Tuhan di pasung dan dibisukan tanpa manusia sadari. Jika Tuhan memang ada, masih hidup dan masih mahakuasa, tentulah Ia masih selalu bisa menyatakan Diri-Nya juga, dan untuk itu tentu pula Ia punya seribu cara.

Dan justru di titik inilah perkataan Agent Mulder di awal menjadi relevan. Dalam kitab suci diceritakan sekian banyak kisah tentang para nabi yang berbicara langsung dengan Tuhan dan mendengar suara jawaban Tuhan langsung (bukan metafora), namun untuk saat ini, gejala semacam itu akan dianggap sebagai gejala skizofrenia. Hal lainnya yang juga problematis apabila dikaitkan dengan masalah etika dan rasionalitas serta konsensus moral, bahwa dalam banyak hal suara Tuhan yang memerintah para nabi itu justru tidak rasional, membingungkan dan seakan tidak mempedulikan etika, sehingga pada masanya, perintah Tuhan tersebut tidak mungkin dianggap sebagai kebenaran oleh kebanyakan manusia.

Misalnya, apa yang akan dibayangkan oleh umat Nabi Nuh? Saban hari dia berkhotbah menyeru manusia agar bertaubat dan kembali kepada Tuhan. Memang ada segelintir orang yang mengikuti seruannya, namun, secara sosial mereka adalah kaum yang lemah dan dianggap bodoh. Hal itu semakin diperparah oleh perbuatan Nuh yang sekian lama membuat perahu di kaki bukit dan bukannya di tepi pantai. Dan perahu itu pun di buat atas perintah (suara) Tuhan langsung, karena Tuhan akan menenggelamkan kaum tersebut. Lalu bayangkan Ibrahim yang mendapat perintah langsung dari Tuhan untuk menyembelih Ismail (kalau dalam Alkitab adalah Ishak. Bukannya menganggap hal itu gila, sang anak malah bersedia melakukan perintah Tuhan tersebut. Atau bayangkan Maryam, perempuan suci yang belum pernah disentuh oleh laki-laki, namun, tiba-tiba saja terkuak bahwa dia hamil tanpa menikah. Daftar perbuatan “sesat” yang dilakukan oleh orang-orang suci yang berbicara langsung dengan Tuhan dan mendengar langsung suara jawaban Tuhan ini masih bisa diperpanjang. Misalnya, kisah Khidir yang membunuh anak kecil di hadapan Musa, atau Yusa bin Nun yang mendapat perintah untuk membantai semua yang hidup di dalam benteng Yerikho, dan lain sebagainya. Dari kehidupan tokoh-tokoh kitab suci tersebut, kita bisa melihat bahwa suara Tuhan, baik berupa teks mau pun ucapan langsung (sekali pun kini bisa dikategorikan sebagai skizofrenia) tidaklah mudah untuk dinilai dan dihakimi apakah sesuatu sesuai etika atau tidak. Seringkali makna etis dari perintah-perintah tidak rasional tersebut baru terpahami setelah sekian lama berlalu.

Hal problematis lainnya adalah pergeseran makna dan runtuhnya konsepsi realitas yang hierarkis sebagaimana lazim ditemukan dalam khazanah agama-agama, yang mungkin mulai terjadi secara bertahap bersamaan dengan Renaisans. Misalnya dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata sanubari dan nurani, apabila dikembalikan kepada makna awalnya malah akan ada kebersesuaian dengan paparan Sokrates tentang daimónion sémeion. Sanubari itu merujuk pada buah shanaubar, yang bentuknya seperti jantung, dan dalam khazanah Islam, itu merujuk juga pada qalb (atau hati) yang seharusnya merupakan rumah Tuhan (baytullah, dan bukan rumah bagi syahwat [hasrat material] dan hawa nafsu [hasrat imaterial]). Sementara kata nurani, itu berasal dari kata ‘nur ‘aini’ yang artinya adalah ‘cahaya kedua’ atau juga ‘cahaya sumber’. ‘Cahaya kedua’ itu merujuk pada cahaya setelah cahaya iman, yaitu cahaya ruh al-quds, sementara ‘cahaya sumber’ juga merujuk pada ruh al-quds, yang memang sering disimbolkan sebagai matahari kalau dalam Al-Quran. Dan peran ruh al-quds itu sama dengan daimón yang dikemukakan oleh Sokrates, yaitu sebentuk suara yang selalu memberitakan larangan dan tak pernah bersifat perintah untuk berbuat sesuatu yang hendak dilakukannya, dan juga menjadi salah oknum yang menuntun seseorang untuk mengenali diri sendiri. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pada awalnya tak ada pemisahan antara suara hati atau nurani dengan suara Tuhan. Atau kalau meminjam istilah dari bahasa Jawa: ‘manunggaling kawula gusti’. Kedua suara itu sebenarnya satu jua. Namun, pemisahan antara suara hati dengan suara Tuhan mulai menajam dalam masa setelah Renaisans, dan semakin menajam dengan munculnya psikologi dengan konsep tentang jiwa yang sama sekali lain, dan tidak memandang jiwa (bisa) otonom atau terpisah dari tubuh, serta nurani adalah produk nalar dan endapan ajaran-ajaran moral, bukan suara Tuhan dalam arti harfiah.

 

Daftar Pustaka

 

A. Mangunhardjana, Isme-isme dalam Etika: Dari A sampai Z, Yogyakarta: Kanisius, cetakan keempat 2002.

A. Sudiarja, Kerangka Kuliah Etika Dasar: Pokok-pokok Pembicaraan Mengenai Etika Dasar, Yogyakarta: Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, 2008.

Alfathri Adlin, “‘Sesat’-nya Kebenaran”, artikel dalam Majalah Madina, 2009.

Bambang Sugiharto, “Ilusi-ilusi Agama”, makalah tidak dipublikasikan.

Dave Robinson dan Chris Garrat, Etika for Beginners, Bandung: Mizan, 1998.

Franz Magnis Suseno, Etika Umum: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius, cetakan kedua, 1979.

_______, 13 Tokoh Etika: Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta: Kanisius, cetakan ke 5, 2011.

Plato, The Dialogues of Plato, diterjemahkan oleh Benjamin Jowett, London: William Benton Publisher, 1952.

Wilfred Cantwell Smith, Kitab Suci Agama-agama, Jakarta: Teraju, 2005.


Add a Comment

Comment closed