Bertaruh Lewat Karya Sastra

oleh: Himawijaya

APA YANG menyebabkan karya sastra menarik perhatian banyak orang? Pertama, tentu saja karya itu diketahui khalayak. Kedua, karya tersebut mempunyai keunikan dan kekhasan, mengikuti trend zaman. Untuk yang pertama, sebuah karya sastra minimal harus diterbitkan, menjadi wacana dan perbincangan. Untuk yang kedua, karya tersebut bersifat mendobrak, dari segi bahasa, isi, maupun tema.

Nah, masalahnya kemudian, untuk meraba daya dobrak dalam karya sastra mau tak mau kita harus meraba semesta yang melingkupi penulisnya. Latar belakang zaman, situasi, waktu, dan tempat pembuat karya menjadi sangat penting. Tapi apakah ini akan menjadi penilaian subjektif? Artinya, dalam menilai karya kita tak lagi jernih hanya memandang hasil tulisan.

Sejenak mari kita lihat kilas balik alasan sastrawan berkarya. Ini akan beririsan dengan cara membaca tanda di hadapannya, pada lingkup semesta. Tanda, bisa dalam semesta sendiri, misalnya pengalaman melakoni hidup, perasaan tertentu yang tengah melanda. Tanda juga bisa berupa peristiwa di luar diri, kejadian alam, atau yang sedang terjadi di masyarakat maupun diri orang lain. Dari upaya membaca tanda ini, sastrawan kemudian mengorganisasikannya di dalam benak. Terbentuklah gagasan, ide, pemikiran, pandangan hidup, yang sangat personal. Khas bagi diri sendiri.

Upaya agar yang ada di benak sastrawan bisa tersampaikan adalah sebab adanya bahasa, hadirnya komunikasi. Yakni bagaimana pesan (gagasan, ide, keinginan personal) hendak dikonstruksi dan diungkapkan kepada orang lain, kemudian diterjemahkan. Inilah mazhab 'proses', sebagai mazhab pertama dalam teori komunikasi. Mazhab kedua, memandang komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Ia berkenaan dengan cara pesan berinteraksi dengan orang dalam rangka menghasilkan makna. Inilah asal mula semiotika, yakni ilmu mengenai tanda. Jika mazhab pertama cenderung memusatkan kajian pada tindakan komunikasi, mazhab kedua lebih berkonsentrasi pada bentuk karya, berupa teks, bahasa lisan, maupun visual.

Tinjauan ini akan fokus pada bahasa teks atau tulisan, yang menurut Aristoteles dalam Peri Hermeneias, adalah simbol dari kata ucapan. Kata terucap adalah representasi mental dan simbol pengalaman, dan guratan tulisan adalah representasi kata terucap.

PERBINCANGAN sebuah tulisan bernilai sastra atau tidak akan jadi perdebatan tanpa akhir. Tapi setidaknya tulisan sastrawi membutuhkan pengananan khusus, apakah kepiawaian dalam penggunaan kata, komposisi kalimat, irama, sampai alur cerita. Dalam karya ilmiah, misalnya, penanganan dan penyusunan teks harus bersandar pada kaidah ilmiah, sedangkan dalam sastra, sandarannya sering tak begitu jelas. 

Tapi ada definisi ringkas yang patut dipertimbangkan dari Anthony Burgess, yakni 'sastra sebagai eksplorasi estetis atas dunia'. Nah, bisa jadi sandaran karya sastra adalah pada nilai estetika, yakni estetika berbahasa tatkala seseorang mengekplorasi realitas (yang real maupun imajiner). Berbeda dengan sastra, bahasa filsafat, misalnya, memiliki estetika sendiri, seperti ungkap Milan Kundera bahwa filsafat adalah bentuk pengembangan pikiran dalam dunia abstrak, tanpa karakter, tanpa situasi. Estetika filsafat bukanlah pada segi bahasa, tapi pada susunan logika. Demikian juga dengan estetika karya sains, bukan pada bahasa, tapi pada keteraturan dalam pengambilan kesimpulan, atau pada proses yang terjadi pada setiap asumsi, dan pada setiap uji coba (trial and error) yang dilakukan persis sebelum kesimpulan diambil.

Adakalanya kita menjumpai semacam penghakiman para cendekia satu bidang ilmu terhadap ilmu lainnya, terutama terhadap sains dan filsafat sebagai sesuatu yang kering tanpa sentuhan estetika. Tak kurang filsuf seperti Martin Heidegger, yang menggugat bahasa matematika sebagai bahasa transparan dan telah kehilangan seluruh nuansa ontologis. Bahasa matematika stabil dan tunggal. Ia kehilangan beragam kemungkinan tafsiran dan kelimpahruahan makna. Lain lagi dengan E.M. Cioran, sastrawan Rumania, yang melakukan serangan balik terhadap filsafat sebagai bahasa artifisial, cenderung megalomania. Cioran mencontohkan manakala Heidegger bicara tentang hal yang sebenarnya sederhana, yakni kematian, tapi dengan bahasa filsafat yang begitu rumit dan diada-adakan.

Tapi apakah memang sastrawan adalah mereka yang hanya mengutak-atik kata? Apakah ia juga telah meninggalkan kaidah logika berbahasa, apakah ia hanya bersuka ria dalam limpahan kata-kata, kaya tafsiran dan cenderung ambigu. Atau mungkin logika berbahasa adalah kemutlakan, artinya tak ada karya sastra tanpa logika realitas? Pertanyaan semacam ini akan menggiring kita memasuki arena kajian sejarah perkembangan kesusastraan.

Bermula---kita anggap demikian---dari Plato, yang bertutur bahwa sastra (poesis) hanyalah tiruan tak sempurna dari kenyataan, selaras dengan skema ontologisnya yang membagi kenyataan menjadi dua: dunia ide dan dunia kasat mata. Dunia kasat mata hanyalah bayangan dunia ide, dan praktis karya sastra lebih tidak ideal lagi, karena penggambarannya cacat akan realitas. Tapi di sisi lain, Plato memuji prosa liris karya Homerus---bahkan disematkan terhadapnya julukan si penyair bangsa Yunani---yang berhasil menarik pengetahuan dari sumbernya di dunia ide, dan disajikan dalam bentuk alegori. Plato dapat dikatakan menarik tolok ukur sebuah karya sastra berdasar pada hadir-tidaknya usungan pengetahuan di dalamnya, yang diboyong ke luar dari dunia ide. Dalam karyanya Politeia (The Republik), Plato dengan tegas menolak semua jenis puisi, sastra, dan nyanyian sebagai sekadar hiburan, yang hanya melemahkan jiwa (dalam arti tidak mengandung pengetahuan), atau berkisah dusta perihal tindak-tanduk para dewa. Karya tersebut terlarang diajarkan kepada anak-anak yang dididik untuk jadi filsuf-raja, ataupun aristokrat dan prajurit.

Lain lagi dengan muridnya, dalam risalah bertajuk Poetika, Aristoteles menilai karya sastra atas nilai gunanya, terutama untuk tujuan terapi psikis. Semua karya sastra seperti tragedi, komedi, dan cerita epos, mempunyai satu ciri yakni mimesis. Mimesis adalah tiruan kehidupan nyata, tapi tidak utuh penuh, hanya diambil beberapa unsur dari kenyataan atau pengalaman yang dijumpai pencipta karya. Tinjauan Aristoteles lebih bernuansa etis, artinya karya sastra dinilai baik bila berguna sejauh proses katarsis (penyucian atau pelepasan). Aristoteles mengaitkan katarsis dengan cerita tragedi. Ketika seorang melihat atau mendengar kisah tragedi, pada dirinya terjadi identifikasi, yakni proses penghayatan terhadap karakter dari tokoh yang sedang diperankan. Alur cerita tragedi, yand di sana karakter jahat  juga ikut berperan, apakah di akhir cerita ia mendapat hukuman, bencana, ataupun kesialan, dengan sendirinya ikut mengaduk dan melepaskan katup emosi-negatif dari alam bawah sadar para pemirsanya. Proses pelepasan inilah yang disebut sebagai katarsis.

Banyak kritik membagi genre sastra sesuai dengan babakan zaman. Masa Yunani-Romawi dan abad pertengahan sering disebut sebagai masa kuno. Selanjutnya aliran sastra mencakup aliran romantik, realisme, modernisme dan posmodernisme. Aliran romantik lebih menekankan penggunaaan imajinasi dan ungkapan perasaan. Dalam aliran ini pengambaran kenyataan (mimesis) tak harus utuh sesuai aslinya, tapi sering dilebih-lebihkan, terutama dari segi ekspresi sentimentalitas dan kealamiahan. Sehingga tak aneh sastrawan romantik banyak mengeksplorasi tema alam dalam karya mereka.

Realisme hadir sebagai respons terhadap romantisme. Dalam aliran ini gambaran kenyataan, terutama realitas sosial yang bobrok menjadi tema utama. Realisme menuntut bahwa karya sastra harus memiliki pengamatan maksimal, dan rekaan minimal. Satrawan seperti Jane Austen, Emile Zola, Charles Dickens, dan Fyodor Dostoyevski termasuk yang menggunakan corak realisme dalam karyanya.

Modernisme datang kemudian, guna mengkritik aliran sebelumnya. Ada dua pokok kritik sastrawan modernisme ini terhadap realisme, yaitu perhatian pada kenyataan sosial sastrawan realisme dianggap sebagai pengkhianatan seni. Bagi para sastrawan modernis: seni adalah untuk seni, l'art pour l'art. Pokok kritikan keduanya adalah apakah mungkin kenyataan bisa dipahami. Inilah dasar aliran modernisme, yakni keraguan epistemologis. Bagaimanapun sastra cukup terpengaruh filsafat,  berkenaan dengan keraguan espistemologis yang diperbincangkan oleh para filsuf semisal Nietzsche. Dalam sastra modern tokohnya antara lain James Joyce, Virginia Woolf, dan William Faulkner.

Jika modernisme mengklaim bahwa kenyataan tak mungkin dikenali, aliran posmodernisme justru meragukan adanya kenyataan itu sendiri. Inilah yang disebut keraguan ontologis. Artinya sastrawan aliran ini mengeksplorasi dunia atau realitas yang tidak dikenal. Sebuah perlintasan antardunia, antara masa depan dan masa lalu, antara dunia real dengan dunia imajiner. Cerita sains-fiksi, adanya mahluk dari planet lain, manusia dari masa depan, dunia yang absurd dan fantastik adalah ciri utama aliran ini.

KEMBALI pada proses kreatif seorang sastrawan, setidaknya ada dua hal yang mesti dilakukan dalam penciptaan karya. Pertama, proses ke arah dalam, atau internalisasi, yakni bagaimana sebuah gagasan, ide, keinginan, ataupun penglihatan atas realitas (baik indriawi maupun sejati) disublimasikan di dalam diri. Sebuah proses penggalian inspirasi, tindak kontemplasi, menuntut kecermatan membaca yang menyeruak dalam perasaan, melintas di benak, atau yang hadir di hadapannya. Kedua adalah eksternalisasi, yakni bagaimana beragam endapan dan sublimasi diri ini diartikulasikan dalam bentuk karya, dibahasakan, diwujudkan. Tentu ada tuntutan realitas luar ikut berperan, semisal kaidah dan standar estetika yang berlaku, atau bisa juga tuntutan komunitas tempatnya tumbuh. Mengikutkan faktor tertentu untuk dipertimbangkan, seperti skill (keterampilan, kepiawaian) dan teknik, pilihan tema, genre, ataupun kepentingan pihak lain: sponsor, ideologi ataupun pasar. 

Dalam pertemuan kedua proses ini sastrawan akan berhadapan dengan tarikan objektivitas dan subjektivitas, idealisme dan tuntutan publik, faktor internal dan eksternal. Menghadirkan sekian risiko menghadang, tatkala ia hendak mewujudkan karya ataupun setelah terwujud. Ia mesti bisa dan biasa menimbang akibat konfrontasi dan kompromi di antara keduanya. Pertama antara tarikan subjektivitas dan objektivitas. Ini terkait dengan estetika; dan dalam hal ini ada dua kutub ekstrem, yakni satu kubu memandang estetika sebagai hal adikodrati dan universal. Kubu lainnya beranggapan keindahan hanyalah bentukan atau konstruksi sosial suatu masyarakat.

Kubu pertama memandang keindahan sebagai sesuatu yang pasti, ajek, baku. Ini adalah ciri khas sastra sebelum era modern. Dalam pandangan kubu ini konstruksi bahasa dalam suatu teks haruslah merepresentasikan logos. Bahasa adalah medium penyingkap kehadiran logos (Ada), dengan tiga karakter dasar: keindahan, kebaikan dan kebenaran. Karya sastra yang baik harus merepresentasikan keindahan (pulchrum), kebenaran (verum) dan kebaikan (bonum), sebagai atribut keilahian. Kesusastraan di era ini memiliki aturan tertentu sebagai tolok ukur. Misalnya, soneta dibentuk oleh jumlah baris tertentu, akhir bunyi yang khas. Pantun, balada, sanjak, roman, novel, atau apa pun namanya, penuh dengan aturan yang mesti ditaati, kalau ingin karya tersebut dikatakan sebagai karya yang indah dan bagus. Kubu kedua memandang keindahan estetis hanyalah bentukan; tidak ada yang ajek, baku, dan universal. Ini menjadi trend kajian budaya (cultural studies) di era ini, era posmodernisme.

Untuk kepentingan ini kita rujuk pengantar Simon During dalam The Cultural Studies Reader (1993), yang membagi kajian budaya ke dalam dua lajur. Pertama, mereka yang memandang kebudayaan (termasuk konsep estetika) sebagai efek hegemoni, dengan Raymond Williams sebagai lokomotifnya. Dalam pandangannya, konsep kebudayaan bukanlah sebuah ciri atau identitas kolektif, tapi lebih kepada alat yang memungkinkan hegemoni berfungsi dalam sistem dominasi.

Kedua, mereka yang terpengaruh pemikiran postrukturalisme Prancis, dari Michel Foucault, yang menggeser konsep hegemoni dari kubu pertama kepada kemajemukan satuan-satuan kecil atau wacana-wacana pinggiran (subaltern). Kekuasan bukan merembes dari atas ke bawah, tapi merata dan menyebar dalam setiap hubungan dalam masyarakat.

Pendek kata, dalam kubu ekstrem subjektivitas ini, jalur pertama akan menilai sebuah karya tak lepas dari kepentingan pihak berkuasa (negara, kebudayaan tinggi, ataupun ideologi tertentu). Sedangkan untuk jalur kedua penilaian karya diserahkan kepada masing-masing kelompok, kepada komunitas---yang pinggiran sekalipun---untuk mengaktualisasikan konsep estetikanya sendiri. Tak ada kepastian. Semua bentuk, yang remeh-temeh pun bisa dikatakan estetis asal ada komunitas pendukung.

Di antara dua kutub ekstrem tadi ada jalan lebih moderat, berada di posisi tengah antara subjektivitas dan objektivitas. Kita tahu ada banyak pijakan konsep estetika. Misalnya, tentu saja, di kalangan sastrawan, ada titik temu mengenai karya yang bagus. Di kalangan saintis, para filsuf, atau bidang lain, mereka dapat bersepakat juga tentang karya di bidang masing-masing. Mengapa demikian, karena ada pengalaman yang sama, bahasa komunikasi yang juga tersambung dan setara. Lain ceritanya andai seorang filsuf dihadapkan pada karya ilmiah, dijamin ia akan kesulitan memberikan penilaian estetis terhadapnya. Jadi objektivitas berhubungan dengan pengalaman. Jika pengalaman tersebut tidak tersambung, penilaian terhadap sesuatu hal bisa jadi sangat subjektif.  Kesimpulannya, objektivitas dan subjektivitas terkait dengan pengalaman individu  dan hubungan dengan komunitas. Yang setaralah yang dapat bersepakat atas penilaian sesuatu. Andai tidak sepadan, keduanya akan berada dalam perspektif sendiri, dalam subjektvitas masing-masing.

LALU bagaimana risiko yang dihadapi para sastrawan itu muncul?

Jika ditelisik, risiko yang dihadapi pengarang dalam mewujudkan karya lebih merupakan tarikan keduanya, yakni antara sisi internal dan eksternal dalam dirinya. Risiko ini di setiap situasi berbeda-beda dalam konteks ruang dan waktu. Sebagian risiko yang dihadapi sastrawan lebih kental aspek politisnya. Alasannya karena sastrawan itu mempunyai sikap politik tertentu secara pribadi---dan adakalanya dicerminkan lewat karya---yang berbeda dengan rezim di negerinya.

Julio Cortazar (Argentina), Milan Kundera (Cekoslowakia), dan Carlos Fuentes (Meksiko), memotret realitas politik di negerinya lewat cerpen, novel, maupun drama dan memoar. Gagasan dan ide pembaharuan politik yang disisipkan lewat karyanya sering membuat mereka harus berhadapan dengan rezim, pemerintahan di  negaranya sendiri. Praktis, ketiga sastrawan tadi harus hengkang dari negeri asalnya, pergi menuju tempat yang relatif bebas dari intervensi politik. Mereka memilih tinggal di Paris, Prancis, pusat kebudayaan dunia di abad ini.

Tiga contoh sastrawan itu hidup di era keraguan ontologis. Artinya, berada dalam keraguan terhadap realitas yang tengah dihadapi. Tak ayal lagi mereka lalu mengambil surealisme sebagai genre tulisannya. Mengeksplorasi dunia imajinasi dengan begitu bersemangat. Eugéne Ionesco, misalnya terbiasa menggali ide cerita lewat mimpi yang berhasil ia ingat lewat bantuan praktik para psikoanalis. Cioran menulis dalam keadaan tidak normal; ia mesti terkondisikan dalam situasi marah, terdesak, jijik. Fuentes bercerita dengan dunia paralelnya. Kundera dengan novel sarat imajinasi. Ekplorasi atas dunia imajiner seperti ini mempunyai risiko sendiri. Mulai dari perilaku aneh---Cioran insomnia dan sangat terobsesi bunuh diri, Ionesco percaya takhayul; bahasa mereka tidak biasa, cerita tak lumrah.

Tarikan penuh risiko bagi sastrawan dalam mewujudkan karya---sekaligus risiko bagi penerbit---benar-benar bervariasi, dari waktu ke waktu, dan berbeda di setiap tempat. Sebuah karya bisa saja dicaci dan dibakar di sebuah negeri---seperti kasus Milan Kundera---tapi dipuji di negeri lain. Atau sebuah karya dicampakkan dan terlarang pada kurun tertentu, tapi dihargai di zaman kemudian, seperti halnya karya Pramoedya Ananta Toer di negeri kita, Indonesia. Risiko tersebut merupakan keniscayaan yang mesti dihadapi oleh mereka yang mengaku sebagai juru bicara zaman, mereka yang disebut sastrawan.[] Bandung, 27 April 2005.


Add a Comment

Comment closed