Pengetahuan dan Diri

oleh: Alfathri Adlin

Pernah di sebuah televisi swasta ditayangkan cerita tentang Ibrahim Al-Haqq, sufi dari Turki. Tayangan tersebut menceritakan Ibrahim yang selalu melihat seseorang di kejauhan yang berteriak-teriak: “Di mana engkau? Di mana engkau?” Semakin hari, sosok tersebut semakin terlihat dekat, bahkan terlihat di sela-sela kerumunan orang. Ibrahim semakin penasaran dan bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang gila yang setiap hari selalu berteriak-teriak mencari seseorang itu?” Sahabat Ibrahim malah balik bertanya: “Orang gila yang mana? Aku tidak melihatnya.” Namun, sosok tersebut tetap terlihat oleh Ibrahim, semakin lama semakin dekat, hingga akhirnya dia pun berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Betapa terkejutnya Ibrahim bahwa sosok itu ternyata adalah dirinya sendiri. Sosok itu pun kemudian memberikan banyak wejangan kepada Ibrahim, dan salah satunya adalah perkataan: “Fungsi pengetahuan adalah untuk mengenal diri.”

Cerita di atas mengingatkan pada sebuah tulisan di atas pintu masuk kuil di Delphi, Yunani, yaitu Gnothi Se Authon (Kenalilah Dirimu Sendiri). Ucapan Apollo tersebut digunakan Socrates untuk mengajari warga Athena mengenali siapa diri mereka yang sejati. Bahwa kehidupan yang tidak ditafakuri adalah kehidupan yang tidak layak dijalani. Manusia, menurutnya, mempunyai “diri yang nyata” yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut. Dengan mengenal siapa dirinya, manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat. Maka Socrates pun mengimbau kaum muda untuk bertafakur agar dapat mengenal diri mereka sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, namun Socrates menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi, harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.

Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar-benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, tetapi untuk mengetahui, atau bahkan mengeksploitasi, segala hal selain diri manusia. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman abad 19, juga sudah mensinyalir hal tersebut dengan menyatakan: “Kita tak kenal, kita—yang katanya berpengetahuan, tak kenal diri kita sendiri…Niscaya kita tetap asing bagi diri kita sendiri, kita tak paham diri kita sendiri, terkait diri ini sudah takdir kita selalu keliru, sebab bagi kita senantiasa abadi ungkapan, ‘Setiap diri berada paling jauh dari dirinya sendiri’—sejauh terkait diri kita sendiri, kita bukanlah yang berpengetahuan.”

Hal tersebut juga menjadi keprihatinan Walker Percy, filsuf Amerika. Menurutnya, kita hidup di sebuah zaman yang lebih gila dari biasanya, karena kendatipun ada kemajuan besar-besaran sains dan teknologi, manusia tidak memiliki bayangan ide tentang siapa dirinya dan apa yang dia perbuat. Percy mempertanyakan kenapa hanya ada satu teori yang diterima secara umum tentang penyebab dan obat radang paru-paru akibat bakteri pneumococcus. Kenapa hanya ada satu teori tentang orbit planet, serta gaya tarik-menarik gravitasi antara galaksi kita dengan galaksi M31 di Andromeda? Sementara itu, kenapa—sekurangnya—ada enam belas mazhab psikoterapi dengan enam belas teori kepribadian? Kenapa selama 2500 tahun ini kita tidak tahu lebih banyak tentang psikis ketimbang yang sudah diketahui Plato?

Hal ini semakin diperkabur dengan pandangan bahwa manusia itu tak ubahnya tanah liat tak berbentuk dan menantikan untuk dibentuk menjadi apa pun. Identitas pun kini dipandang hanya sebagai konstruksi sosial-budaya belaka yang menjadi cetakan bagi manusia yang “terlempar” ke dalamnya. Pandangan seperti ini semakin mengarahkan manusia untuk bergerak melihat dan mempelajari segala sesuatu di luar dirinya, dan melupakan khazanah dirinya seperti yang, salah satunya, dikemukakan oleh Socrates. Namun kini, dalam trend buku-buku psikologi populer, manusia malah lebih sering diarahkan untuk terobsesi menjadi orang lain yang dipandang sebagai simbol hidup paripurna, misalnya, “bagaimana menjadi seperti Michael Jordan”. Orang yang selalu ingin menjadi seperti orang lain seperti itu selamanya hanya akan menjadi pecundang.

Dalam pandangannya tentang pengenalan diri yang nyata atau diri sejati, Socrates sudah mengisyaratkan tentang cetakan primordial manusia. Gunting yang diciptakan untuk menggunting, dan melakukan hal tersebut lebih baik daripada benda lainnya. Begitu pula manusia. Dia diciptakan untuk sebuah tujuan, dan dapat melaksanakan tujuan tersebut lebih baik daripada orang lain yang tidak diciptakan untuk tujuan tersebut. Dalam ajaran Socrates ini terlihat adanya energi minimal, yaitu bagaimana seseorang mungkin terlihat oleh orang lain seperti tengah bekerja keras mengerjakan sesuatu, padahal bagi yang bersangkutan itu tak ubahnya seperti ikan yang bernapas di air. Begitu mudahnya dan melarutkan dirinya dalam keasyikan.

Namun, tidak setiap energi minimal tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk mengenali dirinya. Seringkali yang terjadi adalah jurang yang lebar antara pengetahuan yang diperoleh melalui energi minimal dengan pengenalan diri melalui pengetahuan tersebut. Dilema antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut bisa kita lihat salah satu contohnya pada dua tipe manusia, yaitu pemikir dan penulis. Tidak setiap pemikir adalah penulis—dalam arti pandai menulis dengan baik, mengalir lancar dan enak dibaca. Juga tidak setiap penulis adalah pemikir—dalam arti memiliki kemampuan membangun konstruksi pengetahuan yang tertata tertib, terintegrasi dan mendalam.

Di kalangan pemikir, secara umum terdapat dua jenis dilema terkait pengetahuan dan pengenalan diri ini. Pertama, pemikir yang mengabdikan hidupnya demi pengembangan ilmu itu sendiri. Namun, jenis pemikir seperti ini terbagi menjadi dua subtipe, yaitu, mereka yang memang energi minimalnya cocok dengan bidang yang digelutinya, dan mereka yang lebih dimotivasi oleh hasratnya semata terhadap bidang yang digelutinya. Untuk subtipe pemikir yang terakhir, selain ilmu tersebut diperoleh tidak semudah pemikir subtipe pertama mempelajarinya, ilmu yang digelutinya pun hanya memperkenalkan dirinya kepada berbagai hasrat dalam dirinya. Sementara, pada pemikir subtipe pertama, selain mudah mendalami ilmu yang menjadi energi minimalnya, ilmu yang dipelajarinya pun berpotensi untuk mengantarkannya kepada pengenalan diri.

Tapi permasalahannya, seringkali mereka lebih antusias untuk mengkaji ilmu yang digandrunginya ketimbang berefleksi ihwal energi minimalnya tersebut, misalnya, kenapa dia lebih mudah belajar fisika ketimbang bahasa (seperti Einstein). Padahal energi minimal tersebut dapat menjadi jalan pembuka awal untuk mengenali diri sendiri seperti yang dikemukakan oleh Socrates.

Kedua, pemikir yang menyerahkan dirinya untuk menjadi penampung gagasan-gagasan orang lain. Dia menjadikan dirinya sendiri tak ubahnya ensiklopedi berjalan. Mengetahui banyak hal, tetapi hanya seperti kumpulan kutipan saja. Dia asyik menggeluti pemikiran orang lain, tetapi tidak pernah melahirkan pengetahuan yang seharusnya bisa dilahirkan dari pengenalannya akan diri sendiri. Dalam kedua tipe pemikir ini, ada yang memiliki energi minimal untuk menuliskannya dan ada pula yang tidak.

Sementara, di kalangan penulis, secara umum ada satu gejala umum terkait dilema pengetahuan dan pengenalan diri ini, yaitu penulis yang memiliki energi minimal dalam mengolah kata-kata, namun tidak menjadi pemilik dari pengetahuan yang dituliskannya. Menulis sudah menyerupai sebuah keterampilan atau kriya baginya. Penulis seperti ini sangat terampil mengolah kepingan-kepingan informasi menjadi sebuah tulisan yang bagus, entah dari ensiklopedi, kamus, internet dsb. Tetapi bukan berarti penulis tersebut menggunakan pengetahuan yang dituliskannya untuk mengenali dirinya. Penulis seperti ini biasanya lebih asyik mengolah kata-kata, merangkai kalimat, tetapi belum tentu punya kemampuan membangun suatu konstruksi pengetahuan yang integral dan komprehensif. Pengetahuan di kepalanya lebih menyerupai puzzle yang tidak berkesesuaian satu sama lain dan mengambang.

Demikianlah, tidak ada salahnya kita kembali menoleh ke belakang, kepada kearifan kuno yang mengajarkan bahwa fungsi pengetahuan itu adalah untuk mengenal diri. Apalah artinya manusia yang berpengetahuan luas atau penulis yang prolifik, tapi dia gagal mengenali dirinya dan kehidupan yang seharusnya ditapakinya dengan pengenalan dirinya tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Ibrahim Al-Haqq dan Socrates di atas.[]


Add a Comment

Comment closed