DUNIA YANG DILIPAT

Tamasya melampaui batas-batas kebudayaan

PENULIS: 

Yasraf Amir Piliang

BACK COVER:

Bayangkan bahwa dunia itu seperti selembar kertas. Bagai seorang ahli origami, lipatlah kertas tersebut menjadi dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya, sampai pada satu titik kertas itu tidak bisa dilipat lagi, bagaimanapun dilakukan. Kertas itu tidak dapat dilipat lagi disebabkan ada batas kemampuan struktur kertas tersebut yang menahan perubahan dirinya.

Pemaksaan –berupa penekanan, pemadatan, pemampatan, atau perusakan akan memungkinkan kertas dilipat lebih lanjut. Akan tetapi, ini berarti kita melampaui batas-batas struktur, sifat, dan karakteristik yang seharusnya tidak dilewati. Melipat melewati batas yang seharusnya tidak dilewati –melalui cara pemaksaan, pemadatan, pemampatan, penekanan, perusakan, dan pengerdilan (miniaturisasi)—itulah lukisan sesungguhnya dari apa yang disebut sebagai dunia yang dilipat yang ingin dilukiskan dalam buku ini.

Melipat Waktu, Melipat Ruang, Melipat Tanda, Melipat Budaya; itulah empat bahasa besar yang termuat dalam buku ini. Berbagai fenomena budaya kontemporer dibedah dan dianalisis menggunakan berbagai teori yang –bisa dikatakan—belum lama diperkenalkan kepada publik Indonesia. Dalam buku ini, Yasraf juga memberikan paparan mendasar tentang berbagai teori yang digunakannya, sehingga memudahkan pembaca untuk memasuki berbagai telisikannya, serta menunjukkan bahwa teori-teori tersebut bukan semata tempelan agar terkesan ilmiah dan berwibawa.

Dalam edisi ketiga ini, telah dimasukkan kembali “Pengantar Penulis”, “Prolog” dan “Epilog” dari edisi kesatu, mengganti dua tulisan lama dengan tujuh tulisan baru, plus sebuah postscript. Inilah salah satu buku yang wajib dibaca bagi mahasiswa, dosen atau khalayak umum yang ingin memahami budaya kontemporer sembari mengamati dari dekat jeroan budaya tersebut. []

Cuplikan video pengantar buku "Dunia yang Dilipat" dapat Anda tonton di sini