SEMIOTIKA DAN HIPERSEMIOTIKA

Kode, gaya & matinya makna

PENULIS: 

Yasraf Amir Piliang

BACK COVER:

Buku ini dimulai dari definisi semiotika yang dikemukakan oleh Umberto Eco yang mengatakan bahwa semiotika “pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).” Definisi Eco ini meskipun mungkin sangat mencengangkan banyak orang –secara eksplisit menjelaskan betapa sentralnya konsep dusta di dalam wacana semiotika, sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama semiotika itu sendiri. Lebih lanjut Eco mengemukakan: “Bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan untuk mengungkapkan kebenaran (truth): ia pada kenyataannya tidak dapat digunakan untuk “mengungkapkan” apa-apa. Saya pikir definisi sebagai teori kedustaan sudah sepantasnya diterima sebagai program komprehensif untuk semiotika umum (general semiotics).

Terkait definisi itu, Yasraf mengembangkan konsep hipersemiotika, meski pun tidak dengan sendirinya hipersemiotika dapat diartikan sebagai teori kedustaan. Awalan hiper pada istilah hipersemiotika –yang bermakna melampaui—memperlihatkan bahwa hipersemiotika tidak sekadar teori kedustaan, akan tetapi teori yang berkaitan dengan relasi-relasi lainnya yang lebih kompleks antara tanda, makna, dan realitas, khususnya relasi simulasi. Dari pembahasan tersebut, Yasraf lalu menerapkan kajiannya tentang tanda untuk membedah gaya, kode hingga matinya makna, dan ditutup dengan penerapan semiotika dalam metode penelitian interpretatif, iklan, agama, dan cultural studies pengkajian tanda.

Buku ini, sebagai suatu buku utuh, berhasil memperlihatkan secara menyeluruh dan rinci tentang [bahasan]nya. Pemaparan deskriptif informatif nyaris leksikografis, yang menuntut ketekunan cermat ini, sangatlah berharga sebagai suatu tahapan dasar untuk melakukan refleksi lebih mendalam dan substansial selanjutnya atas kiprah peradaban mutakhir dunia kita ini.

:::

“Buku ini, sebagai buku utuh, berhasil memperlihatkan secara menyeluruh dan rinci tentang [bahasan]nya. Pemaparan deskriptif informatif, bahkan nyaris leksikografis, yang menuntut ketekunan cermat ini, sangatlah berharga sebagai suatu tahapan dasar untuk melakukan refleksi lebih mendalam dan substansial selanjutnya atas kiprah peradaban mutakhir dunia kita ini.” (Bambang Sugiharto)

“…Yasraf mengembangkan hipersemiotika yang merupakan penyempurnaan semiotika linguistik struktural dari Saussure yang dipadukan dengan kondisi hiper-realitas. Karena dulu semiotika pernah menjelaskan fenomena tanda-tanda linguistik yang representatif tentang kebenaran, maka, kini, semiotika harus disempurnakan karena juga perlu menangani berbagai tanda ekstra-linguistik yang simulatif penuh kepura-puraan itu.” (Armahedi Mahzar)

“Dengan kacamata hipersemiotika, Yasraf kemudian meneropong fenomena kekinian…sebenarnya lebih tepat dikatakan bahwa antara realitas kekinian yang diteropong dengan hipersemiotika sebagai sebuah ilmu atau metode merupakan dua hal yang saling mengisi. Dalam peneropongan itu, uraian Yasraf, terutama pada tataran teoretis, sangat cermat dan sistematik. Ia bergerak dari satu pemikiran ke pemikiran lain dengan teliti. Dengan penuh kesabaran ia menjelaskan berbagai istilah dengan detil. Dengan paparan yang encer, Yasraf menjelaskan berbagai definisi.” (Acep Iwan Saidi). []

Cuplikan video pengantar buku "Semiotika dan Hipersemiotika" dapat Anda tonton di sini