METAFISIKA KEBUDAYAAN

Video MP4 kuliah "Metafisika Kebudayaan" 

Narasumber: Prof. DR. I. Bambang Sugiharto.

 

 

DAFTAR ISI:

Metafisika Kebudayaan adalah renungan spekulatif yang lebih mendalam tentang kebudayaan serta cenderung bersifat abstrak dan mengatasi sudut pandang empiris mengenai cara berpikir, merasa, berperilaku dan berhubungan yang spesifik pada masyarakat tertentu. Adapun pentingnya studi metafisika kebudayaan adalah untuk mendapatkan wawasan yang menyeluruh (universal) tentang hakikat budaya pada umumnya. De facto, visi-visi metafisik memberi arah untuk evolusi peradaban yang berfungsi sebagai norma ideal pertumbuhan.

:::

File #01 : PENDAHULUAN

INTRO: Kebudayaan: cara berfikir, merasa, berperilaku dan berhubungan yang spesifik pada masyarakat tertentu. Metafisika: sesudah wacana tentang "fisika" (wilayah medan empiris) [dalam kerangka Aristoteles]- mengatasi sudut pandang empiris.
Metafisika Kebudayaan: Renungan spekulatif yang lebih jauh dan mendalam tentang kebudayaan; yang cenderung bersifat abstrak.
- Pentingnya metafisika kebudayaan:
1. Mendapatkan wawasan menyeluruh (universal) tentang 'hakekat' budaya pada umumnya.
2. de facto visi-visi metafisik memberi arah untuk evolusi peradaban berfungsi sebagai norma ideal pertumbuhan.
- Civilized, Cultured

File #02 : PLATO
1. Kerangka Ontologis ("Dialog Rapublic"):
- Segala sesuatu dalam realitas mengandung kesamaan -> "Ide Universal" = inilah kenyataan yang paling real dan mutlak -> ada di dunia idea.
- Realitas duniawi empiris adalah copy-an pucat/palsu/semu dari ide-ide universal yang sekaligus relatif (tidak mutlak)
- Realitas duniawi menimbulkan 'kepercayaan/keyakinan pribadi -> doxa
- Sementara yang disebut "pengetahuan" adalah filsafat tentang yang universal dan abstrak (episteme).
- Analog situasi Gua -> banyak ilusi -> yang berhasil keluar adalah para filsuf melewati abstraksi dan dialektika.
- Maka komunitas/masyarakat harus dipimpin oleh filsuf (the philosopher King)
- Khas Filsuf sejati -> bukan orang yang dikuasai nafsu mencari kenikmatan dan kekayaan.
Masyarakat terdiri dari 3 tingkatan
1. Pemerintah/Raja/Filsuf (yang mencintai kebijaksanaan)
2. Tentara (yang cinta pada kehormatan, setia mengabdi, cinta pengendalian diri dan membela negara)
3. Petani, artisan, seniman (yang cinta kekayaan material dan nafsu fisik)

Ideal Hidup mencapai kebahagiaan; di capai bila perilaku selaras dengan proporsi dan tugas-tugasnya dan tidak saling intervensi.
Setiap kebudayaan memiliki karakter khas.

:::

File #03 : ARISTOTELES

Metafisika [The Metaphysics]
- Bertentangan dengan plato -> Realitas utama bukan dunia ide yang abstrak dan universal -> melainkan realitas individual.
- Setiap entitas mengandung substansi yang terdiri dari materia dan forma.
- Forma = Substansi primer (ousia) -> - bentuk khas manusia yang melahirkan kultur dunia manusia.
Ethica Nichomachea
Tujuan tindakan manusia = kebahagiaan (eudaimonia)
- Eudaimonia bukanlah pleasure; bukan juga kepuasan (content)
- Eudaimonia = berperilaku sesuai 'keutamaan' virtue
Kekhasan manusia bedanya dengan binatang adalah perilakunya bisa di arahkan secara rasional, sesuai dengan ideal-ideal moral.
- menjadi manusia sejati dan bahagia = menjadi makhluk Etis (bermoral).

 Unsur Ruh :
1 Keberlangsungan fisik/tubuh (makanan yang baik akan melahirkan ruh yang baik)
2. Hasrat / desire (sumber motivasi emosional ke arah keutamaan moral)
3. Rasionalitas

- Cara mencapai ideal manusia yang berpengertian sekaligus bijaksana
- Prinsip Jalan Tengah Emas [The Golden Mean]
- Intellectual excellence melahirkan ethical wisdom -> melahirkan happiness.

Politik
- Khas manusia adalah zoon politicon = ditakdirkan hidup bersama dalam komunitas (negara)
- Negara adalah komunitas orang-orang yang cara hidup dan kiblat nilainya serupa.
- Kewajiban negara adalah memberi hidup yang layak bagi warganya
- Hidup yang layak = yang memungkinkan warganya mencapai kebahagiaan bersama
- Maka Ethic = masalah politik -> dan juga sebaliknya; politik harus berkaitan erat menunjang ideal etik.

3 kemungkinan pemerintahan:
1. Monarki (negara di pimpin oleh satu orang raja)
2. Aristokrasi (negara di pimpin oleh sekelompok)
3. Polity (sistem pemerintahan melalui perwakilan -> yang menengahi atasan [raja] dan bawahan [masyarakat])

3 kemungkinan pemerintahan mengalami degenarasi:
1. Monarki -> merosot menjadi Tirani
2. Aristokrasi -> merosot menjadi Oligarchy
3. Polity -> merosot ke arah demokrasi (anarki massa)

Estetik (dari buku "The Poetics")
- Tragedi (tragic drama) -> karena effect etisnya bagi masyarakat -> emotional cleansing (katarsis)
unsur penting dalam Tragic Drama
1. Plot: struktur
2. Karakter -> orang yang berstatus tinggi -> yang berperilaku buruk -> konsekuensi dari perbuatannya

Dampak
- Konsep-konsep Plato dan Aristoteles menentukan sejarah budaya barat hingga era modern.

:::

File #04 : IMMANUEL KANT

1. Kritik atas rasio murni (Kritik der reinen Vernunft, 1781)
- Apa yang dapat saya ketahui (hakikat "pengetahuan")
- 3 jenis pengetahuan:
1. Pengetahuan analitis - a-priori
2. Pengetahuan Sintetis -a-posteriori
3. Pengetahuan Sintetis -a-priori
Proses Pengetahuan
- yang dapat kita ketahui bukan benda an sich (Noumena); melainkan benda sejauh tampak pada indera kita -> Erscheinungen; Fenomena.
- proses => benda -> ditangkap oleh indera: a priori ruang dan waktu -> dilempar ke akal (verstand): dicerna melalui a priori -> 12 kategori.

02. Kritik atas Rasio Praktis (Kritik der praktischen Vernunft, 1788)
a. Apa yang harus saya lakukan
- perilaku manusia de facto di atur oleh banyak kaidah:
1. Maksim = kaidah pribadi yang subjektif
2. Undang-undang = kaidah umum yang objektif
3. Imperatif Hipotetis = kaidah bersyarat -> bila ingin x, harus lakukan y
4. Imperatif Kategoris = keharusan mutlak dan umum

Tujuan moral => kebahagiaan -> untuk bahagia orang mesti bersifat rasional: Sintesa kaidah pribadi dengan kaidah umum.

03. Kritik atas kemampuan menilai (keputusan)
[Kritik der Urteilskraft, 1790]
- keputusan-keputusan tentang: tujuan, nilai, indah, buruk dan sebagainya.
- diantara pengetahuan dan tindakan.
Kebudayaan -> soal Purposiveness
- Intrinsik = tujuan intrinsik alam -> mekanisme -> lahirkan manusia dengan nalarnya -> melahirkan kebudayaan -> untuk mencapai kebahagiaan manusia -> sekaligus menciptakan hidup yang rasional dan bebas.
- Ekstrinsik

Dalam keadaan konkrit: Kebudayan terbagi dua:
- Skill (keterampilan teknis, praktis)
- Pola-pola pendisiplinan
~ perlu, namun melahirkan kesenjangan/kelas-kelas sosial -> penyebab bentuk-bentuk keresahan sosial (social instability)
-> maka diperlukan hukum-hukum -> perlu kesadaran hukum pada masyarakat (civil society)
-> pada skala lebih luas, maka stabilitas di jamin apabila ada "Cosmopolitan System of All States."

Pola-pola pendisiplinan
- Perlu untuk atasi sisa-sisa "karakter kebinatangan" manusia
-> fungsi kebudayaan -> membawa pada Dunia Rasional dan Berkebebasan memilih.
- Sosok pendisiplinan: Science, Art,

4. Agama dalam batas Rasio/Nalar saja.
Die Religion innerhalb der Grenzen der bloßen Vernunft-1793
- Agama-agama tradisional tidak begitu penting, sebab Tuhan bicara langsung melalui "Coelum stellatum supra me, lex moralis intra me"
- Agama berdasarkan "pengetahuan" (yang ketat) tak mungkin -> melainkan hanya berdasarkan tindakan moral.
- Perbedaan Agama -> hanyalah bermacam wajah dan bentuk dari kesadaran moralitas saja. -> agama-agama perlu di teliti secara kritis.

:::

File #05 : WILHELM HEGEL

Karya pokok:
1. Phänomenologie des Geistes (Fenomenologi Ruh), 1807
2. Wissenschaft der Logik (Ilmu mengenai Logika), 1812-1816
3. Enzyklopädie der philosophischen Wissenschaften, 1817
4. Grundlinien der Philosophie des Rechts, 1821

Gagasan Dasar
- Seluruh kenyataan adalah proses menjadi sadar-diri Ruh (Absolute Spirit, Tuhan) => Ruh Rasional

- terkait pada mitos penciptaan
Pertama-tama ada pure spirit:
- satu, universal
- pure mental state
- tak bisa memahami siapa dirinya sebab tak ada bandingan
=> maka yang universal itu memecah diri menjadi bermacam entitas partikular yang fisik menjadi subjek dan objek konkrit (subjek >< objek konkrit)
- tegangan antara subjek dan objek menjadi sejarah yang bersifat dialektis -> evolusi menuju kesadaran diri yang lebih tinggi
-> kesatuan antara subjek + objek + pengertian diri yang lebih kompleks

Sejarah
Triade Logika perkembangan Sejarah
1. ilmu logika (berpikir mengenai cara berpikir)
- ajaran tentang eksistensi (kualitas; kuantitas; derajat/tingkat)
- ajaran tentang esensi (esensi; fenomen; konsep kenyataan)
- ajaran tentang pengertian (subjektif; objektif; idea)
2. ilmu alam/filsafat
(berpikir mengenai hal yang diluar)
- Ilmu pesawat (ruang dan waktu; materi dan gerak; ilmu pesawat mutlak)
- ilmu alam (fisika individualitas umum; khusus; total)
- ilmu organika (Geologis; Tumbuhan; Binatang)
3. Filsafat Ruhnya Hegel
- Ruh Subjektif (Antropologi; Fenomenologi Ruh; Psikologi)
- Ruh Objektif (Hukum; Moral; Kesusilaan)
- Ruh Mutlak (Seni; Agama; Filsafat)

Ruh Mutlak
- Seni: Ruh absolut di amati dan di artikulasikan dalam bentuk-bentuk
-> seni bukan sekedar imitasi (mimesis) melainkan upaya kreatif karena menyatukan ide + fenomen; pikiran + kenyataan; materi + bentuk; -> maka seni bukan hanya soal indah
-> soal konseptual, the truth of reality
- Agama: Ruh absolut di mengerti dalam "anggapan-anggapan"
- Filsafat: Ruh absolut di mengerti secara logis

Seni
- Seni Simbolis (di dunia Timur; arsitektur)
- Seni Klasik (Yunani, Romawi; Patung dan lukisan; mengenai keseimbangan materi dan bentuk)
- Seni Romantik (Kristiani; olah bathin; soal musik dan satra)

Agama
- Agama Alam (di dunia Timur)
- Agama Spiritual (Yahudi, Yunani dan Romawi)
- Agama Masehi

:::

File #06 : JACQUES LACAN

Ecrits - 1996

Inti: - Diri atau Subjek -> adalah sebuah proses panjang tanpa akhir, pencarian keutuhan primordial (mitik) -> dalam artian kesatuan ibu.
- Kebudayaan adalah berbagai subsitusi simbolik yang tak pernah memadai untuk kesatuan azali itu.

The Real
- The mythical union with mother: pengalaman tentang kesempurnaan dan kelengkapan total.
-> realitas yang undifferentiated: tidak ada subjek dan objek, aku dan orang lain.

The Imaginary
1. Mulai ada a sense of Self (the mirror phase) -> mengenali diri lewat identifikasi dengan objek lain. -> (yang bukan diri) -> bisa melahirkan "kecanduan" terhadap objek-objek tertentu

The Symbolic
2. The "Fort-da" game: The real muncul dan menghilang terus menerus di dalam simbol-simbol kultural. - simbol-simbol kultural adalah upaya kita mengendalikan realitas -> upaya menggapai kembali The Real.
- Yang paling utama dalam simbol ini adalah Bahasa.
Masalahnya dilema:
- Bahasa mampu mengartikulasikan kebutuhan kita.
- Makin mengalami diri diluar bahasa.
Makin sadarkan diri atas kekosongan (lacking)
- Meng-intensifikasi "desire"
- keunikan dan otonomi "aku" sebagai subjek ternyata rapuh (fragile, precarious)
- The Essential Self" tidak ada.

The Oedipus Complex
3. the Endless metonymic movements
- Seluruh hidup dan kebudayaan adalah upaya substitusi / penciptaan aneka "signifier" yang tak pernah bisa merangkum "the signified (the real)" yang sesungguhnya.
- Perpindahan dari satu metafor ke metafor yang lain.
- Yang kita mainkan dan rayakan adalah fantasi, imajinasi.
- Proses menopengi "the real"

:::

File #07 : DELEUZE

Filsafat Cartesian - Kantian Modern
- Pikiran = representasi realitas
- pada Deleuze = tak ada dualisme; semua (pikiran dan realitas luar [material]) itu satu.
- Sang "ada" = satu -> kreatif, selalu differing (proses membedakan diri)
- Differing -> terutama pikiran -> kreatif tanpa batas, dan tak perlu medium.
- Pikiran adalah pengada spiritual, karena itu murni -> tidak berproses melalui teritori, melainkan melahirkan/mencipta sendiri teritori (media)
- Bentuk nyata dari proses tersebut adalah "Konsep".

Chaosmosis
- ada situasi a-signifying (chaotic, sangat kaya dan kompleks) -destabilisasi--> signifikasi- kodefikasi

Pusat gravitasi Filsafat Deleuze dan Gautari adalah "Desire"
- Buku Utama:
1. Anti Oedipus: Capitalism and Schizophrenia (1972)
2. A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia II (1980)

- Pada Freud: Subjek adalah Hasrat (id) yang ditekan oleh super-ego: "Prinsip Realitas"
- Pada Lacab: Subjek adalah Hasrat Oedipal yang tak pernah terpenuhi, yang di salurkan dan dipenjara oleh simbol-simbol budaya.

- Bagi Deleuze:
Subjek seharusnya adalah Homo desiderare (makhluk berhasrat) yang Schizopernik dan bekerja bagaikan mesin -> yang merupakan flux (aliran) yang differing itself terus menerus
- De-teritoralisasi diri (Membebaskan diri terus menerus) secara nomadik

- Kenyataannya
Kebudayaan modern dan kapitalisme -> jadikan subjek yang bersifat fasis, paranoid dan neurotik yang patuh pada hasrat-hasrat pihak lain (the others) yang sudah dibakukan dan di-homogenkan -> lahirkan benih-benih fasisme baru (microfacism) -> Subjek lantas mencita-citakan menjadi fasis-fasis baru yang mendominasi dan meng-eksploitasi pihak lain.

- Kapitaslisme seolah bantu deteritorialisasi hasrat tapi sebenarnya setiap kali me-reteritorialisasi -> melalui produk, citra, simbol

-> Untuk keluar dari kerangka itu -> Subjek perlu menjadi "Group Subject" yaitu Subjek menggunakan kelompok-kelompok (Institusi, agama, keluarga dlsb) sebagai batu loncatan saja untuk produksi diri.

-> Harus menjadi "Anti-Oedipus", Subject Nomadik, Schizoid.
- kadang perlu Schizoanalysis -> untuk menemukan "Lines of Flight"
- Untuk mampu menolak di definisikan pihak lain.

:::

Bonus File #08 : NIETZSCHE

=> Mengklimaks dalam Postmodernisme (akhir abad 20, awal abad 21)

The Birth Of Tragedy (1872)
-> Penilaian atas budaya yunani
- M. Arnold: Budaya Yunani adalah ekspresi kesederhanaan yang tenang dan tercerahkan, terstruktur secara harmonis.
- bagi Nietzsche: tampilan harmonis, rasional itu adalah sublimasi dari tendensi kekerasan yunani.

Kebudayaan Yunani berada dalam tegangan 2 tendensi estetik.
- Apollonian
- Dionysian
- Perpaduan antara Apllonian dan Dionysian melahirkan Drama-drama Tragedy.
- Tendensi Dionysian di kelola secara Apollonian;-> tendensi destruktif menjadi karya seni yang menyelamatkan kehidupan.

Human, All too Human (1878).
- melawan anggapan tradisional: bahwa pengetahuan, kebenaran dan nalar berlandaskan pada suatu struktur pondasi yang abadi (supra historis) di balik pengalaman yang berubah-ubah.
- Bagi nietzsche: pengetahuan, kebenaran, metafisika => sesuatu yang bersifat "historis" (berubah-ubah). => Segala hal itu "menjadi (becoming)" -kontekstual. Pengetahuan kita hanya sejauh yang tampak secara empirik.

- Yang dibutuhkan = "Historical Philosophy." -> kerja seperti analisis kimia -> mengurai tata moral, religius, estetik dsb. hingga menemukan unsur-unsur dasar pembentuknya -> kontekstual.
- Pengetahuan universal objektif itu tidak penting

 Beyond Good and Evil.(1886)
- Sains -> bukanlah "penjelasan (explanation) atas realitas; melainkan hanya salah satu kemungkinan tafsir (interpretasi) atas realitas.
- bahkan konsep kunci "sebab-akibat" hanyalah fiksi konvensional saja, supaya kita bisa melukiskan secara komunikatif kepada orang lain.
- Sains tidak menawarkan "kebenaran" atau "hukum alam"; melainkan salah satu cara saja untuk menguasai dan memanipulasi realitas
- bahasa bukan representasi realitas; bahasa adalah cara kita berfikir dan memahami realitas.

 The Gay Science.(1882)
- Sains -> sensibilitas daripada "metode".
- Sensibilitas = sikap tetentu terhadap alam.
- Metode = aturan main saja di kalangan ilmuwan, yang memungkinkan kekuasaan. []

 
Cuplikan kuliah "Metafisika Kebudayaan" dapat Anda tonton di sini