FILSAFAT ILMU

Paket DVD kuliah "Filsafat Ilmu"

Narasumber: Prof. DR. I. Bambang Sugiharto.

 

 

DAFTAR ISI:

Disc 01
• Apa itu filsafat?
• Perbedaan filsafat dengan falsafah, ideologi dan worldview.
• Filsafat sebagai refleksi rasional, kritis dan radikal atas hal-hal yang pokok dalam hidup.
• Manfaat dari filsafat: memupuk kemandirian sikap dan pemikiran, mengasah ketajaman untuk mampu memilah mana yang inti dan bukan inti, membuka kemungkinan pemahaman baru (intellectual game).

Disc 02
• Mengapa jenjang S3 pada umumnya membutuhkan Filsafat Ilmu?
• Areal filsafat.
• Filsafat sistematik (kerangka besar filsafat): 
1. Manusia: Antropologi filosofis/antropogi metafisis; 
2. Tuhan: Theodicea/filsafat ketuhanan; 
3. Keindahan + seni: Estetika; 
4. Norma/perilaku: Etika; 
5. Pengetahuan: Epistemologi.

Disc 03
• Tujuan kuliah filsafat ilmu (sebagai bagian dari epistemologi): untuk memahami hakikat dan tujuan ilmu (science); memahami persoalan-persoalan dasar yang dihadapi ilmu; mendudukan ilmu dalam peradaban dan kehidupan yang lebih luas.
• Diakronik = kajian secara historis.
• Sinkronik = masalah-masalah penting keilmuan (kapita selekta).
• Pra Modern (abad 6 SM); perpindahan dari Mitos ke Logos.
• Karakter mitos; imajerial, persepsi yang undifferentiated; (phsysiognomic), partisipatif, kultur lisan: makna pada efek imajinatif (aura), pencipta mitos anonim → semua orang memiliki; yang penting adalah dramatisasi; konsistensi detail tidak penting. 
• Karakter Logos; konsep menjadi pilar; makna menjadi denotatif (dipastikan) → penunggalan makna; univokal yang berbeda dengan mitos yang mengandung kecenderungan bermakna banyak (ekuivokal). presisi spesifik (differentiated), distansi kritis, kultur baca-tulis; penalaran diskursif panjang, analisis pikiran; pikiran secara rinci.
• Logika Aristoteles; 
• Menjelaskan dan melukiskan bagi kesadaran.
• Jürgen Habermas; rasionalitas komunikatif.

Disc 04
• Pengutamaan logos (berpikir logis); awal dari science di Yunani yang muncul pada filsuf alam; mencari unsur yang paling dalam dari alam semesta.
• Plato; pengetahuan sejati (episteme) berbeda dengan pendapat/keyakinan pribadi, pengetahuan sejati mestilah bersifat universal, dunia ‘idea’.
• Aristoteles; inti/esensi realitas ada di relaitas itu sendiri yang bisa dicapai melalui abstraksi, pengetahuan bukan sekadar ‘tahu bahwa’ melainkan ‘tahu mengapa’ → explanatory power yang kemudian melahirkan sensibilitas baru bagi sains modern di kemudian hari terhadap penyebab; material (bahan), formal (idea), final/tujuan (teleologis), efisien (pembuat); argumentasi: logika formal; aneka bentuk silogisme; sistematisasi nalar umum yang anti kontradiksi; metode: induksi (dari umum ke khusus) dan deduksi (dari khusus ke umum).
• Abad Pertengahan; dari Plato → yang ditafsir menjadi kristiani; dari Aristotles → di Eropa melalui biara-biara.
• Karya Yunani ditelaah oleh filsuf dalam dunia islam, dari telaah filsuf dunia islam kemudian masuk ke Eropa.
• Masa kegelapan Eropa; Gerakan Humanisme di Eropa → Renaissance di abad 15-16; sebagai awal kemodernan.
• The Inquisition.
• Humaniora.
• Dari teosentris ke antroposentris

Disc 05
• Renaissance = Kelahiran kembali kebudayaan Yunani yang dianggap ideal; yang saat itu kontradiksi dengan situasi keagamaan di abad pertengahan yang degeneratif dan korup.
• Kaum Umanisti (kaum literati); kaum awam non gereja yang dengan caranya sendiri mempelajari studia humanitatis (humaniora) + kaum borjuis.
• Humanisme; manusia sebagai ukuran utama dalam memahami realitas, manusia bukan malaikat dan bukan binatang, manusia adalah apa yang dibuatnya sendiri.
• Terbukanya kemungkinan-kemungkinan baru seiring dengan ditemukannya mesin cetak, mesiu, kompas.
• Bentuk humanisme: protestantisme, sekularisme, idealisme, positivisme, marxisme, eksistensialisme, dlsb.
• Studia Humanitatis: kurikulum Artes Liberales dan Artes Servilles.
• Rene Descartes: metode keraguan (dubium methodicum), paham dualisme (dualisme Cartesian).
• Empirisme: John Locke, George Berkeley, David Hume → Pengetahuan yang benar membutuhkan data empirik; realitas dicerap oleh indera → baru dipikirkan.
• Kebenaran Ilmiah: koherensi logis dan korespondensi empiris.
• Francis Bacon: bahaya Idola (pemberhalaan) = ethos kerja saintis: Idola Tribus, Idola Specus, Idola Theatri, Idola Fori.

Disc 06
• Peran humanisme dalam iptek modern.
• Paidea.
• Artes Liberales; Trivium: gramatika, retorika, logika; Quadrivium: Aritmetika, astronomika, geomatika, musika.
• Studia Humanitatis: Humaniora (Geisteswissenscahften), Ilmu-ilmu Alam (Naturwissenschaften).
• Issac Newton: seorang ilmuwan harus memiliki ruang untuk segala kemungkinan; tidak a priori dan dogmatis.
• Immanuel Kant: sintesis antara rasionalisme dan empirisme.
• Realitas: Noumena (the thing in itself [das Ding an sich]) dan Fenomena: realitas sejauh tampak pada kita (manusia menangkap realitas dengan berlapis-lapis a priori) yaitu a priori ruang dan waktu, a priori 12 kategori, a priori ide regulatif; bahwa ada Dunia, Jiwa dan Tuhan → postulate → di luar pengetahuan ilmiah.
• Abad ke-20: Husserl dan Heidegger.
• Filsafat/metafisika → penting untuk moral → berbuat baik → berperilaku rasional; moralitas rasional → bisa diterima jika 3 postulat (a priori) diterima

Disc 07
• Evoulusi Ilmu: 
- abad 17 - Fisika → revolusi mekanik 
- abad 18 - Biologi → revolusi energi
- abad 19 - Ilmu sosial, sejarah, psikologi → revolusi sosial
- abad 20 - Cybernetica, komunikasi dan informasi → revolusi informasi
- abad 21 – Interdisipliner: cognitive science 
• Ekterioritas → interioritas
- Kesadaran, ruh, hati, rasa 
- Pattern: prediksi, engineering
- Experiental turn: complexity, fluidity, flexibility

Disc 08:
• Review film “What the Bleep Do We Know?”
• Synergetic Energy eXchange
• Masalah yang dihadapi ilmu: problem ontologi (worldview/falsafah), worldview ilmiah: materialistik, kini worldview ‘materialistik-ilmiah’ sedang tergerogoti.
• Realitas = gerakan-gerakan = relasi-relasi = interaksi-interaksi.
• “Event” (Whitehead).
• Everything I think is what I feel, everything I feel is what I am.
• Worldview/ontologi saintifik = de facto = dominan sekarang, tapi pada saat yang sama harus berhadapan dengan falsafah/worldview/ontologi yang lain.
• Dari bermacam-macam ontologi → melahirkan epistemologi yang berbeda-beda → melahirkan logika yang berbeda juga... (dari bermacam-macam paradigma → melahirkan teori-teori yang berbeda-beda → melahirkan logika penanganan/solusi problem yang berbeda juga).
• Pertanyaan: layakkah sains tetap diprioritaskan dan mengapa?
• Alasan: sains terbuka, koreksi diri secara sistematik, kebetulan sejarah, hasil materialnya jelas, metode terukur dan secara publik transparan.

Disc 09
• Problem kebenaran
• Teori kebenaran
1. Teori korespondensi: benar sesuai dengan kenyataan
2. Teori koherensi: benar = masuk akal
3. Teori pragmatis: benar = berguna
4. Teori performatif; benar = siasat retorik (istilah kosong) untuk mengubah pendapat orang lain agar sesuai dengan pendapat kita, benar = mengubah kenyataan
5. Teori revelasi: benar = diwahyukan
6. Teori eksistensial: benar = berarti (eksperiensial)
7. Teori hermenetik: benar = disclosive → melihat yang awalnya tersembunyi → mencerahkan
• Sikap terhadap kebenaran
1. Absolutis: benar = mutlak dan satu
2. Relativis Historis: benar = berubah-ubah sesuai dengan waktu
3. Relativis Sosiologis: benar = berbeda-beda tergantung komunitasnya
4. Relativis Linguistik: benar bergantung kerangka bahasa
5. Relativis Hermeneutik: benar = tafsir; dalam dunia manusia tidak ada yang tanpa tafsir
6. Relasional: realitas adalah ternyata jejaring yang bergerak terus

Disc 10
• Epistemologi: Filsafat Ilmu (science) bagian dari Epistemologi; Filsafat yang memikirkan hakikat dari ilmu (science).
• Kaitan Filsafat: pemikiran bebas tentang berbagai “kemungkinan” untuk menjelaskan realitas; berfungsi sebagai asumsi-asumsi dasar (worldview) bagi dunia keilmuan.
• Filsafat = refleksi kritis, rasional dan radikal atas hal-hal pokok dalam hidup.
• Hegemoni kultural, falsafah, fakta dan nilai.
• Karakter pemikiran timur.
• PhD.
• Bidang Filsafat: Epistemologi; Antropologi Filosofis; Theodicea; Aesthetics; Ethics; Metaphysics.

Disc 11
• Diakronik (historis).
• Melihat pilar-pilar yang membentuk dunia keilmuan hari ini.
• Pramodern, Modern dan Postmodern.
• Sinkronik (sistematik, analitis)
• Contoh: syarat keilmiahan; metode umum ilmiah; persoalan-persoalan mendasar dalam dunia ilmu.
• PraModern: karakter Mitos dan Logos
• Perbedaan kepentingan akan Mitos dan Logos.
• Keseimbangan

Disc 12
• Postmodern: dari Logos (science) ke mitos baru.
• Teori Indeterminasi (Werner Karl Heisenberg).
• Metafora dalam logos (science).
• Filsuf Yunani di abad 6-4 SM.
• Logika.
• Tradisi skolastik.
• Renaissance.

Disc 13
• Postmodern: style arsitektur dan sastra; menjadi mazhab filsafat, gelombang segala sikap krisis atas modernitas → kecenderungan otokritik: kritik internal atas sains.
• Karl popper: Falsifikasi → verifikasi tradisional tidak membawa kemajuan pada dunia sains; hanya membawa pada pembenaran diri terus menerus; ilmu tidak berevolusi; maka yang di butuhkan adalah falsifikasi agar mampu merobohkan teori sebelumnya; pernyataan-pernyataan cukup spesifik.
• Kebenaran yang dapat dicapai selalu sedikit demi sedikit → terpenting adalah belajar dari kesalahan sedikit demi sedikit → masyarakat terbuka (open society) → piecemeal approach.
• Thomas Kuhn: Paradigma → teori-teori induk yang di jadikan pegangan.
• Pergeseran paradigma → Revolusi (religious conversion); paradigma baru tidak otomatis diterima karena kebenaran objektifnya; ditentukan juga oleh faktor-faktor psikologis, sosial, kultural.
• Paradigma dalam situasi normal science hampir tidak di pertanyakan (puzzle solving) → ketika menghadapi anomali-anomali dimungkinkan paradigm shift (pergeseran paradigma).
• Dilthey: Naturwissenschaften (IPA) → Erklaren (menjelaskan) → hukum alam; Geisteswissenschaft (IPS) → Verstehen (memahami) → makna.
• Paul Feyerabend: Against Method → banyak temuan ilmiah dalam sejarah tidak metodis melainkan intuitif.
• Sains menjadi tirani baru, sewenang-wenang menyingkirkan pengetahuan lain yang non ilmiah.

Disc 14
• Sinkronik
• Karakter Umum Keilmiahan
1. Semua wacana secara umum di susun secara metodis dan sistematis; metodis = cara-cara yang bisa dipertanggungjawabkan (dahulu dilakukan secara shahih); sistematis = semua gagasannya tertata dengan rapih.
2. Testable (diulang/didemonstrasikan kembali).
3. Mengandung presisi tinggi (prediksi) → kadang perlu kuantifikasi.
4. Mengandung koherensi logis.
5. Data reliable (soal kejujuran).
6. Explanatory power-nya besar
• Lakatos
- Teori degenaratif = self justifying
- teori progresif = berhasil membuka fakta-fakta baru, problem-problem baru
• Demarkasi; ilmiah - non ilmiah (pseudo ilmiah)
• Metode Umum (cara kerja dunia ilmu [science]) → seperti kinerja detektif: mengetahui sesuatu dengan melacak jejak-jejak (data-data yang serba terbatas), tidak langsung.
1. Observasi
2. Rekam Data
3. Klasifikasi Data → data yang relevan disisihkan
4. Tentukan/pastikan kemungkinan
5. Kesimpulan → tesis
• Masalah-masalah mendasar keilmuan:
1. Masalah hegemoni keilmuan → di hadapan banyak pengetahuan yang lain; sebab ada banyak logika; logika → upaya untuk melihat sebab-akibat; dan ada banyak cara melihat hubungan tersebut; yang berakar pada worldview (falsafah) tertentu dan karakter bahasa 
• Realitas bisa ditangkap dalam aneka konfigurasi yang berbeda
Prioritas atas sains, sebab
1. Prosedurnya paling inderawi (tangible) 
2. Penalarannya sejajar dengan common sense
3. Lebih terukur (predictability)
4. Produk materialnya jelas
5. Transparansi untuk publik
6. Aksesible untuk semua; berkaitan dengan institusi yang jelas
7. Secara sistematik belajar dari kesalahan terus menerus

Disc 15.
• Titik awal masalah ilmiah: persepsi indera → sepotong-potong dan bersifat temporer (fleeting).
• Hal ini diatasi dengan ingatan dan abstraksi → yang dimungkinkan oleh bahasa dan imajinasi.
• Maka muncullah aneka sistem representasi tentang realitas.
• Tingkatan representasi yang paling dasar adalah bahasa umum.
• Bahasa umum pun telah berbeda-beda pada tingkat common experience/common sense (logika biasa/sehari-hari).
• Pada level yang lebih dalam (misteri kehidupan/realitas yang melampaui indera biasa) → dibutuhkan bahasa khusus → Wittgenstein → language games; bahasa mistik (magis), bahasa moral, sastra/seni, bahasa agama, bahasa politik → salah satunya bahasa ilmiah/pengetahuan tradisional.
• Bahasa Ilmiah Barat harus dikembalikan sebagai salah satunya saja di antara bahasa khusus pengetahuan yang lain-lain.
• Problemnya kemudian: munculnya masalah epitemologis
1. Benar = satu mutlak → mungkinkah berwajah banyak dan bisa ditangkap secara berbeda?
2. Bahkan dalam sains pun, di tingkat terdalam, realitas tampil berbeda-beda
• Richard Rorty: Bahasa yang berbeda-beda bisa saling dipelajari (tensional); hegemoni terkait soal strategi presentasi; substansi; power; size; jejaring.
• Fokus dunia pengetahuan modern adalah kebenaran → de facto ada nilai lain yang sama pentingnya; keyakinan, kesejahteraan, kebahagiaan, keadilan. []

Cuplikan kuliah "Filsafat Ilmu" dapat Anda tonton di sini