Semiotika dan Hipersemiotika, Teori tentang Dusta?

oleh: Wisnu Prasetya

Membaca buku ini, saya seperti merasa terlempar ke dalam belantara yang disebut Alan Badiou sebagai ruang ketidakmungkinan. Belantara yang susah ditembus karena penuh onak dan duri berlapis-lapis, rumit, dan sulit dikupas. Dengan demikian ia menjadi penjelajahan yang sungguh menantang. Penjelajahan yang mesti melewati jalan menikung, lorong filosofi yang gelap dan berliku, duri definisi yang tajam, dengan berbagai kerikil metodologis sepanjang jalan yang berpotensi menghambat penjelajahan.

Barangkali, kesulitan ini muncul karena memang saya bukan pembaca buku-buku filsafat (pemikiran?) yang tekun. Seringkali saya membaca buku-buku anumerta para pemikir melalui jalan pintas : membaca buku berlabel “anu” for begginer. Jalan pintas yang setidaknya memudahkan saya untuk mendapatkan kutipan-kutipan yang bisa diselipkan sebagai bahan tulisan atau diskusi.

Ketika membaca buku ini, sejak awal saya sudah menyiapkan diri untuk menghadapi medan yang tidak bisa diprediksi. Apalagi, saya menuntaskan buku ini dalam perjalanan Bekasi – Semarang dengan menggunakan kereta api. Sebagai awalan, sejak perjalanan awal dari Stasiun Senen saya mencoba melakukan otak atik gathuk menggunakan semiotika. Adanya orang yang menarik ongkos toilet meskipun di depannya tertulis “toilet gratis” menunjukkan praktik korupsi masih hadir.

Toilet dalam kereta yang kehabisan air menandakan PT KAI masih setengah-setengah mengelola kebersihan. Anak-anak yang bergembira di dalam kereta menunjukkan bahwa orang-orang tua kini sudah miskin imajinasi. Dan sebagainya. Dan seterusnya. Awalan ini ibarat kuda-kuda untuk menyusuri disiplin keilmuan yang oleh Umberto Eco dalam karyanyaA Theory of Semiotics (1979) disebut sebagai “teori yang dapat digunakan untuk berdusta”, semiotika. Semiotika adalah teori dusta. Benarkah demikian?

Seperti diungkapkan Yasraf, mereka yang gagal mencerna dengan baik ungkapan Eco akan terjebak untuk mengabaikan semiotika karena jika betul ia merupakan dusta, ia tidak layak dipelajari. Nah, kehati-hatian diperlukan untuk membaca “definisi” dengan dingin. Apa yang hendak dikatakan Eco terletak pada gagasan bahwa teori yang mampu menyingkap dusta, pastilah bisa menyingkap kebenaran.

Teori tentang dusta, adalah teori tentang kebenaran. Dalam dirinya melekat dusta sekaligus kebenaran. Makna implisit semacam ini bisa kita temukan misalnya dalam kata siang dengan malam, lapar dengan kenyang, dan lain-lain yang bisa kita perpanjang deret katanya.

Semiotika meyakini pandangan global bahwa setiap praktik sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, sampai agama dalam kehidupan adalah praktik pertandaan (signifying practice).Semiotika sebagai metode pembacaan menjadi semakin masif karena ada kecendurungan untuk melihat praktik kehidupan tersebut sebagai fenomena kebahasaan. Fenomena yang dilihat sebagai tanda dan membuat semiotika memiliki tugas untuk menafsirkannya.

Dalam tugas penafsiran ini, terdapat jarak yang lebar antara tanda dan referensinya pada realitas (referent). Konsep, isi, atau makna dari apa yang dibicarakan atau ditulis tidak sesuai dengan realitas yang dilukiskan. Seseorang mengatakan [A] sementara realitas yang sesungguhnya adalah [B]. Sebaliknya, seorang dikatakan tengah mengungkapkan kebenaran ketika tanda yang digunakannya mempunyai hubungan yang relatif simetris dengan referensi realitasnya. [A] menceritakan [A] (halaman 45).

Selain itu, seperti diungkapkan Jean Baudrillard dalam Simulations (1981), muncul relasi yang kompleks antara tanda, citra, dan realitas. Kompleksitas yang tercermin dalam empat tesis.Pertama, citra dikatakan merupakan refleksi dari realitas. Di dalamnya terdapat tanda yang merepresentasikan realitas (representation). Kedua, citra menutupi dan memanipulasi realitas seperti kejahatan (malefice). Ketiga, citra menutup absennya realitas seperti ilmu sihir(sorcery). Dan keempat, citra tidak berkaitan dengan realitas apapun karena citra merupakan simulakrum dirinya sendiri (pure simulakrum).

Tidak membatasi diri dalam wilayah semiotika, Yasraf juga membincangkan hipersemiotika yang ia anggap sebagai kecendurungan melampaui semiotika konvensional. Hipersemiotika beroperasi dalam kebudayaan yang penuh dusta, kepalsuan, kesemuan, bahkan kedangkalan. Kekuatan hipersemiotika dan hyper-signs merupakan kekuatan utama dari apa yang disebut sebagai wacana postmodernisme (halaman 59).

Buku yang diangkat dari tesis Yasraf di Saint Martins College of Art and Design ini memetakan komplesitas relasi tersebut dengan detail. Dimulai dengan diskusi mengenai modernisme dan postmodernisme dalam tingkat filosofis teoretis (bab 1, 2, 3), sampai upaya memahami kode-kode gaya postmodern dengan menelusuri kode-kode yang tersembunyi di balik sebuah karya seni (bab 8, 9).

Adanya glosarium dan pengantar penulis yang menjadi ciri khas buku Yasraf juga menjadi alat bantu berharga untuk menembus rimba raya pemikiran dalam buku ini. Ditemani glosarium misalnya, kita dituntun untuk memahami konteks sebuah istilah. Dengan memahami konteks ini tentu diharapkan tidak muncul misreading yang berpotensi menyesatkan pembaca. Kira-kira begitu.[]

sumber:

http://wisnuprasetya.wordpress.com/2012/12/27/semiotika-dan-hipersemiotika-teori-tentang-dusta/

 


Add a Comment

Comment closed