In God We Trust; Sebuah Resensi

oleh: Wahyuni Amin

Berkelas, formal dan berat. Seperti itulah kesan pertama saat melihat fisik buku berjudul “In God We Trust” ini. Sampul buku yang berwarna hitam, barisan huruf perangkai judul yang berdiri tegak penuh wibawa, dan lembar buku yang mencapai 478 halaman, ditambah lagi dengan foto Ranti Aryani dengan seragam formal berlatar bendera Amerika, semakin memperkuat kesan itu. Beruntung karena dalam fotonya Ranti Aryani berpose sambil memperlihatkan senyum manis, sehingga bisa sedikit memberi kesan ceria. Tidak ada yang salah dengan sampul buku ini, berkelas, eksklusif, keren, formal, dan berat, jika benar kesan seperti itu yang coba dihadirkan, berarti Agung Yuwanda selaku desainer sampul berhasil melakukannya. Tapi “Don’t judge a book by the cover”, mungkin pepatah ini sangat tepat untuk disandang buku ini, karena setelah membaca keseluruhan isinya saya mendapat kesan yang jauh berbeda dari kesan pertama saat melihat sampulnya. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang baku namun rangkaian kalimatnya mengalir, hidup, dan penuh ekspresi sehingga mampu membawa pembaca larut dalam kisah. Buku ini adalah buku non fiksi tapi saya seperti sedang membaca sebuah novel islami yang penuh warna dan sarat hikmah. 

Buku ini merupakan autobiografi yang ditulis oleh Ranti Aryani seorang mantan perwira militer di pangkalan udara Amerika Serikat. Melalui buku ini penulis menapak tilasi perjalanan hidupnya mulai dari masa kanak-kanak di kota hujan Bogor hingga ia memutuskan untuk berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Amerika Serikat dan menetap di Philadelphia bersama suami tercinta. 

Sesuai judulnya, “In God We Trust: Ranti Aryani: Merentang Hijab dari Indonesia sampai Amerika”, Ranti Aryani menceritakan perjalanan hidupnya dari sisi perjuangannya dalam mempertahankan hijab sebagai pakaian muslimah dari kesewenangan otoriter yang berkuasa di Indonesia hingga di Amerika. Perjuangan mempertahankan hijab yang merupakan simbol ketaatannya pada agama yang ia yakini harus dijalani dalam rangkaian kisah kehidupan yang tidak mudah. Diskriminasi, pelecehan, penindasan, tercerabutnya hak, pengucilan hingga masuk ke ranah hukum yang kaku, formal, penuh intrik, dan menakutkan harus ia rasakan sebagai bayaran atas keteguhan keyakinannya. Bukan hanya kelelahan raga yang ia rasakan saat itu, tapi juga kelelahan jiwa yang teramat berat. Silih berganti episode-episode hidup harus ia hadapi, meski dengan skenarionya berbeda tapi episode-epidode itu masih bercerita tentang kisah yang sama, tentang hijab. 

Tidak ada yang kebetulan dalam hidup, semua peristiwa dalam hidup ini sudah tertulis nyata dalam sebuah kitab yang bernama Lauhul Mahfuzh dan tentu saja tidak ada kesia-siaan di dalamnya karena semua terjadi demi sebuah maksud dan tujuan yang mulia. Rangkaian kisah hidup anak manusia sejak dilahirkan hingga saat ajal tiba, adalah sebuah jalinan yang terhubung erat satu sama lain menuju satu tujuan, begitupun dengan kisah hidup Ranti, yang merentang sejak ia dilahirkan di tanah air tercinta, Indonesia, hingga menetap di sebuah negara yang asing baginya, Amerika. Rangkaian episode-episode kehidupan yang ia lalui adalah sebuah pendidikan Ilahiah, menempa jiwa yang lemah, agar menjadi insan yang mampu mengenal dirinya sendiri, yang kelak akan menghantarkannya pada pengenalan yang lebih agung yaitu pengenalan pada Tuhannya. 

Ranti kecil hidup dalam keluarga yang bahagia, harmonis, dan mapan dari segi financial. Terlahir sebagai anak satu-satunya perempuan dari empat bersaudara, membuat Ranti kecil begitu dekat dengan Ayah dan Ibunya. Ayah Ranti adalah pengusaha garmen, ia juga memiliki sebuah perkebunan dan peternakan yang pengelolaannya diamanahkan kepada satu keluarga petani asal Malang, sedangkan Ibunya adalah seorang direktris umum PT Sinar Process, sebuah perusahaan perkebunan karet di Bogor. Ranti kecil akhirnya mulai terbiasa bersinggungan dengan masalah hukum, diawali saat Ibunya harus menyelesaikan masalah perusahaannya di ranah hukum. Masalah demi masalah dalam keluarganya mulai mengusik kenyamanannya sebagai putri kecil yang hidup bahagia dalam kehangatan kasih keluarga. Dalam balutan rasa yang asing itu Ranti kecil mulai merasakan dahaga akan sebuah pencarian makna hidup. Saat Ranti duduk di bangku SMP, ia mulai berkenalan dengan orang-orang baru. Perkenalannya dengan Elly Roosita mengawali pemikiran barunya, dahaga untuk mempelajari agama yang diyakininya pun semakin kuat. Di sela-sela kesibukan sekolahnya Ranti beserta sahabat-sahabatnya ikut belajar di sebuah pesantren, Ranti juga diperkenalkan dengan pimpinan yayasan pendidikan Al-Ghazali yang biasa dipanggil Mama’ Abdullah bin Nuh, dari ulama besar inilah Ranti banyak belajar masalah agama, meski saat itu Ranti dengan eforianya dalam mempelajari ilmu agama tanpa sadar telah menyusupkan nafsu dan amarah dalam semangatnya beragama, ia begitu berapi-api, sehingga api semangatnya siap menghanguskan siapa saja yang dianggapnya salah, tidak heran jika nafsu yang menyertai dakwahnya dalam penegakan syariat selalu membuat orang menjauh, karena amarah dalam nafsu tidak akan mampu menyampaikan hikmah yang suci. 

Ujian pertamanya berkenaan dengan hijab dimulai sejak ia memutuskan untuk memakai jilbab saat duduk di bangku SMP, padahal saat itu pemakaian jilbab di sekolah negeri terlarang oleh rezim Soeharto. Meski tahu dengan peraturan yang berlaku di sekolahnya itu, namun Ranti bersama sahabat-sahabatnya berani menantang arus. Tidak berarkhir di bangku SMP, perjuangan mempertahankan hijab itu berlanjut saat Ranti berhasil masuk di SMA favorit, karena kukuh mempertahankan jilbabnya, Ranti bersama sahabat-sahabat setianya harus mengalamai diskriminasi karena keputusannya memakai jilbab, bahkan dipaksa berhadapan dengan pihak sekolah dalam ranah hukum. Setelah melewati proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil, Ranti dan kawan-kawan akhirnya diperbolehkan memakai jilbab. Tapi ternyata perjuangannya mempertahankan jilbab tidak selesai sampai di situ, sebuah skenario yang lebih besar dan menakutkan telah menantinya di sebuah negara adikuasa yang asing baginya, Amerika Serikat. 

Setamatnya dari SMA, Ranti melanjutkan pendidikan formalnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Moestofo Jakarta. Di sana, pencariannya akan hakikat hidup ini semakin bergelora. Aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan membawa Ranti berkenalan dengan banyak orang, salah seorang seniornya mengenalkannya pada Pak Sofwan, seorang ulama yang mengajarinya tentang jalan pertaubatan dan penyucian diri. Melalui Pak Sofwan pula Ranti kemudian dipertemukan dengan suaminya, seorang muallaf berkewarganegaraan Amerika yang tertarik mempelajari ilmu tasawuf. 

Setelah menikah, karena dampak dari krisi moneter yang mengguncang Indonesia pada tahun 1998 , Ranti dan suaminya akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Amerika. Di sanalah Ranti mengawali episode baru kehidupannya yang tidak mudah. Perjuangannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, mengharuskan Ranti dan suaminya berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain di benua Amerika itu. Bukan hanya pergantian musim yang ektrim serta bencana alam yang beberapa kali meluluh lantakkan apa saja di sekitar tempat tinggalnya yang menjadi cobaan berat bagi Ranti dan suaminya, tapi juga diskriminasi yang hebat dari berbagai pihak di negara adikuasa itu menjadi ujian terberatnya. Diskriminasi, pelecehan, penindasan, pengucilan, sudah menjadi santapan sehari-harinya di negara barunya itu. Seorang Ranti menantang sebuah negara adikuasa dalam ranah hukum, tentu bukanlah perkara mudah. 

Badai yang menghantam dalam lika-liku kehidupannya, membawa Ranti pada sebuah kesadaran yang membimbingnya untuk memahami beragam hikmah berharga di balik skenario Ilahi itu. Di tengah perjuangannya bergelung dengan badai kehidupan, seorang sahabat lalu memperkenalkan Ranti pada sebuah perkumpulan Islam Paramartha di Bandung, di sana Ranti banyak belajar dari seorang guru bernama Bapak Soeprapto Kadis, dari beliau Ranti mulai memahami siapa dirinya yang sebenarnya dan untuk apa ia melakoni setiap episode-episode hidupnya yang penuh onak dan duri itu. Sebuah pemahaman keberagamaan yang utuh, menjadikan Ranti Aryani mampu merasakan dan melihat perjalanan hidupnya itu sebagai bentuk kasih sayang Allah untuk membersihkan jiwanya dari belenggu nafsu dunia dan sifat kebinatangan yang menjadi hijab seorang hamba terhadap Tuhannya, serta mendidik jiwanya yang lemah agar menjadi kuat supaya mampu mengemban misi hidupnya yang sejati. 

Ranti Aryani telah menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya, dan sesungguhnya buku kehidupan yang lebih lengkap dan lebih terperinci hingga tidak sekecil atompun dari kisah hidupnya yang terlewatkan di sana telah tertulis dengan begitu apik dan sempurna di Lauhul Mahfuzh, ditulis langsung oleh Sang Pencipta. Setiap insan punya buku kehidupannya masing-masing, dan kelak kita akan menerima buku itu di yaumil akhir. 

Semakin dalam membaca buku ini kita akan mendapat kesan hikmah yang lebih mendalam dari hanya sekedar perjuangan seorang wanita dalam mempertahankan hijab yang merupakan simbol ketakwaannya. [] 

Makassar, 23/09/2013

Book Cover:


Add a Comment

Comment closed